Ringgit Makin Perkasa karena Kebanjiran Modal Asing, Beda Nasib dengan Rupiah

Image title
6 Juli 2026, 13:09
ringgit, rupiah melemah, dolar AS
Katadata
Ilustrasi. Royal Bank of Canada (RBC) memproyeksikan ringgit dapat menguat hingga 3,95 per dolar AS pada akhir tahun, sedangkan Australia & New Zealand Banking Group (ANZ) memperkirakan mata uang Malaysia itu berpotensi mencapai 3,80 per dolar AS, level terkuat sejak 2015.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Prospek mata uang Asia menunjukkan perbedaan arah. Ringgit Malaysia diperkirakan menguat pada paruh kedua tahun ini, sedangkan rupiah masih dibayangi tekanan akibat menurunnya kepercayaan investor dan penyusutan cadangan devisa.

Dilansir dari Bloomberg, analis memperkirakan ringgit akan bangkit setelah sempat menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada Juni. Penguatan tersebut didorong oleh kebijakan Bank Negara Malaysia (BNM) yang mendorong perusahaan memulangkan dan mengonversi devisa hasil pendapatan luar negeri ke dalam ringgit, yang juga ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat. 

Royal Bank of Canada (RBC) memproyeksikan ringgit dapat menguat hingga 3,95 per dolar AS pada akhir tahun, sedangkan Australia & New Zealand Banking Group (ANZ) memperkirakan mata uang Malaysia itu berpotensi mencapai 3,80 per dolar AS, level terkuat sejak 2015. 

Sejak BNM mengumumkan langkah intensifikasi arus masuk devisa pada 24 Juni lalu, ringgit tercatat menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Penguatan itu didukung surplus perdagangan yang besar, lonjakan ekspor, serta derasnya arus masuk dana asing ke pasar obligasi Malaysia.

Malaysia juga menikmati berkah dari meningkatnya permintaan global terhadap produk elektronik dan pembangunan pusat data (data center) seiring berkembangnya industri kecerdasan buatan (AI). 

Ekspor Malaysia pada Mei melonjak 45% secara tahunan sehingga mendorong surplus perdagangan mencapai rekor bulanan sebesar 40 miliar ringgit atau sekitar US$ 9,8 miliar.

Selain itu, investor global tercatat membeli sekitar US$ 2,1 miliar obligasi Malaysia hingga akhir Juni. Ini erpotensi menjadi arus masuk bulanan terbesar sejak Mei 2025.

Sebaliknya, rupiah dan kondisi ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sebaliknya.  Fitch Ratings pada awal bulan ini memperingatkan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia dapat menghadapi tekanan apabila cadangan devisa terus menyusut dan kepercayaan investor belum pulih.

Dalam laporan terbarunya, Fitch menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar total 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan komitmen bank sentral menjaga stabilitas rupiah setelah pemerintah mengumumkan rencana sentralisasi ekspor komoditas.

Meski demikian, lembaga pemeringkat global tersebut mencatat kinerja rupiah masih tertinggal dibandingkan sebagian besar mata uang lain sepanjang tahun ini. Di saat yang sama, cadangan devisa bruto Indonesia tercatat turun 4,6% sepanjang Maret hingga Mei 2026.

"Penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan dan tajam, terutama jika didorong oleh arus keluar modal yang terus-menerus terkait dengan kepercayaan investor yang lebih lemah atau pelemahan lebih lanjut dalam indikator tata kelola, dapat menambah tekanan pada peringkat rating Indonesia," tulis Fitch dalam laporannya. 

Fitch juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya akan cukup untuk membiayai 4,9 bulan pembayaran eksternal, sedikit di bawah median negara-negara berperingkat BBB yang memiliki cakupan sekitar 5 bulan.

Adapun intervensi valuta asing Bank Indonesia (BI) mengurangi cadangan devisa dan menyerap likuiditas rupiah, memperketat kondisi pendanaan domestik dan memperkuat dampak kredit dari sentimen investor yang lebih lemah. Hal ini juga dapat berkontribusi pada peningkatan bertahap posisi short net valuta asing, yang mencapai hampir US$ 27 miliar pada akhir Mei dan dapat meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing di masa mendatang seiring jatuh temponya. 

Data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 juga menunjukkan kondisi yang tak menggembirakan. Berbanding terbalik dengan Malaysia, ekspor Indonesia turun 5,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 23,2 miliar.

Indonesia juga mencatatkan defisit neraca perdagangan secara bulanan untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir pada bulan lalu sebesar US$ 1,61 miliar.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...