Subsidi BBM Bengkak, Malaysia Terbitkan Obligasi Dolar Perdana dalam 5 Tahun
Malaysia menerbitkan obligasi dolar pertamanya dalam lima tahun terakhir sebesar US$1,5 miliar. Surat utang ini diterbitkan di tengah kemungkinan membengkaknya subsidi subsidi bahan bakar yang kemungkinan meningkat lebih dari dua kali lipat dari target awal akibat perang melawan Iran.
Pemerintah menjual surat berharga syariah atau sukuk, dalam dua bagian untuk membantu mendanai proyek-proyek termasuk infrastruktur serta membiayai kembali kewajiban yang ada.
Malaysia menetapkan obligasi senilai US$850 juta yang jatuh tempo pada April 2032 dengan imbal hasil 4,612%. Mereka juga menjual tranche senilai US$650 juta yang jatuh tempo pada Juli 2036 dengan imbal hasil 4,949%.
Penerbitan obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan hingga 4,7 kali lipat. Permintaan yang kuat memungkinkan pemerintah untuk memperketat harga akhir sebesar 30 basis poin dari harga awal, mencatat spread terketat yang pernah ada untuk penawaran sukuk global negara tersebut.
“Kelebihan permintaan yang kuat dengan spread terketat yang pernah ada, mencerminkan kepercayaan investor global yang berkelanjutan terhadap prospek ekonomi dan kredibilitas kebijakan Malaysia,” kata Menteri Keuangan Kedua Amir Hamzah Azizan dalam sebuah pernyataan pada Jumat (24/7), seperti dikutip dari Bloomberg.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia telah melampaui ekspektasi dalam beberapa kuartal terakhir karena permintaan domestik yang kuat, lonjakan investasi yang terkait dengan semikonduktor dan kecerdasan buatan, serta ekspor elektronik mengimbangi dampak perang di Timur Tengah. Produk domestik bruto naik 5,8% dalam tiga bulan hingga Juni dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi.
Kembalinya negara ini ke pasar obligasi dolar terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran. AS juga akan memungut bea masuk baru dari sebagian besar mitra dagang utama karena pemerintahan Trump membangun kembali tembok tarifnya.
Pemerintah Malaysia telah memperingatkan bahwa mereka mungkin tidak dapat mencapai target defisit fiskal tahun ini karena harga minyak global yang tinggi telah meningkatkan tagihan subsidi bahan bakar akibat gangguan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan pada bulan lalu bahwa pengeluaran Malaysia untuk subsidi bensin dan solar dapat meningkat hingga 40 miliar ringgit (US$9,8 miliar) tahun ini jika harga pasar saat ini terus berlanjut. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari 15 miliar ringgit yang dialokasikan untuk subsidi dalam anggaran 2026.
