Super El Nino Ancam Harga Pangan di Indonesia, Inflasi Berpotensi Naik

Kamila Meilina
5 Agustus 2026, 15:15
El Nino, harga pangan, inflasi
ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (ketiga kiri) meninjau ketersediaan Bahan Pokok Penting (Bapokting) di Pasar Gede Solo, Jawa Tengah, Rabu (18/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan harga pangan dan tekanan inflasi yang lebih besar seiring menguatnya fenomena Super El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam 76 tahun terakhir. 

Selain memicu kekeringan berkepanjangan, cuaca ekstrem ini berisiko mengganggu produksi pertanian, memperketat pasokan bahan pokok, hingga meningkatkan biaya distribusi di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi konflik geopolitik.

Melansir Bloomberg (5/8), dampak El Nino terhadap inflasi Indonesia menjadi yang terbesar dibandingkan sejumlah negara lain. Berdasarkan analisis terhadap El Nino sebelumnya, fenomena itu berpotensi menambah inflasi hingga sekitar 1,87 poin persentase, terutama akibat kekeringan yang mengerek harga pangan.

Grafik Bloomberg Economics menunjukkan Indonesia berada di posisi teratas, disusul Filipina dengan potensi kenaikan inflasi sekitar 1,85 poin persentase. Dampak tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia (1,11 poin), Thailand (0,79 poin), India (0,73 poin), hingga Amerika Serikat yang hanya sekitar 0,09 poin persentase.

Kenaikan inflasi di Indonesia diperkirakan didominasi oleh dampak kekeringan yang mengganggu produksi pangan. Meski curah hujan berlebih di sejumlah wilayah dapat sedikit meredam tekanan harga, efeknya dinilai tidak cukup besar untuk mengimbangi kerugian akibat musim kering.

Harga Pangan Berpotensi Meningkat

Fenomena El Niño memang terjadi secara siklus ketika suhu permukaan Samudra Pasifik menghangat dan mengubah pola cuaca global selama sekitar satu tahun atau lebih. Namun, para ilmuwan menilai El Niño kali ini berpotensi lebih ekstrem karena terjadi di tengah tren pemanasan global yang terus meningkat.

Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan karena porsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan masih sangat besar. Menurut riset Allianz, sekitar 35% konsumsi rumah tangga di Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan pangan. Artinya, kenaikan harga beras, minyak goreng, cabai, telur, hingga komoditas hortikultura akan langsung menekan daya beli masyarakat.

Bloomberg mencatat harga beras dan minyak goreng di sejumlah wilayah Indonesia sudah mulai mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Jika musim kering berlangsung lebih lama, tekanan harga diperkirakan semakin besar karena hasil panen menurun dan pasokan berkurang.

Risiko Super El Nino tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Cuaca ekstrem juga diperkirakan meningkatkan biaya logistik global.

Bloomberg mencatat tarif pengiriman kontainer laut dunia sempat menembus level tertinggi dalam dua tahun terakhir, melampaui US$4.600 per kontainer 40 kaki, dipicu kombinasi gangguan pelayaran di Timur Tengah dan ancaman kekeringan di Terusan Panama yang membatasi kapasitas kapal.

Kenaikan biaya logistik tersebut berpotensi memperbesar harga barang impor maupun distribusi pangan domestik, sehingga tekanan inflasi tidak hanya berasal dari sisi produksi tetapi juga rantai pasok.

Bloomberg menilai dampak Super El Niño kali ini akan lebih berat dibandingkan episode sebelumnya karena terjadi bersamaan dengan konflik geopolitik yang telah mendorong harga energi lebih tinggi.

Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin diperkirakan menjadi kawasan yang paling terdampak. Selain menghadapi risiko gagal panen, negara-negara tersebut juga harus menanggung biaya impor energi yang lebih mahal serta gangguan rantai pasok.

Senior Climate Economist Allianz Hazem Krichene mengatakan El Niño kini menjadi penghubung antara perubahan iklim dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks.

"El Niño menjadi perantara antara ekonomi dan iklim yang terus menghangat. Ini menjadi persoalan serius bagi negara-negara yang juga sedang menghadapi tekanan geopolitik dan tantangan domestik," ujarnya.

Tekanan inflasi akibat Super El Niño diperkirakan mendorong pemerintah memperkuat berbagai langkah stabilisasi harga, mulai dari menjaga stok pangan, mempercepat distribusi, hingga intervensi pasar apabila diperlukan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...