Bappenas: Indonesia Terjebak 3 Dekade Jadi Negara Berpendapatan Menengah

Ade Rosman
27 Agustus 2026, 19:49
Calon pembeli melihat aksesori untuk kebaya di salah satu stan UMKM di Pos Bloc, Jakarta, Jumat (26/7/2024). Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai perlu adanya ekosistem UMKM yang baik agar Indonesia bisa ke luar dari middle income trap atau j
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Calon pembeli melihat aksesori untuk kebaya di salah satu stan UMKM di Pos Bloc, Jakarta, Jumat (26/7/2024). Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai perlu adanya ekosistem UMKM yang baik agar Indonesia bisa ke luar dari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut Indonesia sudah terlalu lama berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah. Ia mengatakan, Indonesia telah keluar dari kategori negara berpendapatan rendah sejak 1993. Namun, dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade, Indonesia belum mampu melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Ia mengatakan, pemerintah pun mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi agar Indonesia dapat naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.

“Indonesia sudah terlalu lama di dalam ekonomi pendapatan menengah. Sejak tahun 1993 menurut catatan kami, Indonesia memang sudah keluar dari kategori pendapatan rendah, namun tetap belum bisa melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi," kata Pambudy dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR, Kamis (27/8).

Ia menilai, pengalaman menghadapi krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa meski fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat, pemerintah tetap perlu mewaspadai berbagai guncangan ekonomi.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetap dibutuhkan untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.

Pambudy menyebut, pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan untuk memperbesar kapasitas produksi nasional, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan untuk memperbesar kapasitas produksi nasional. Pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan untuk memperluas kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi tinggi juga dibutuhkan agar daya saing industri kita terus meningkat,” katanya.

Selain itu juga, ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan untuk meningkatkan pendapatan per kapita. 

Pambudy mengatakan, pertumbuhan bukan hanya berupa angka, namun pertumbuhan ekonomi harus berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Juga harus dibarengi pemerataan ekonomi dan penurunan kesenjangan.

Adapun, dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Pambudy menilai target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun trajektori pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi hingga 2029 sesuai sasaran Asta Cita.

Dia menyatakan, target pertumbuhan tersebut akan dikejar dengan tetap menjaga keseimbangan antara optimisme dan kondisi realistis perekonomian.

Sejumlah strategi yang disiapkan antara lain penguatan produktivitas, peningkatan investasi, serta percepatan industrialisasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.

“Target tersebut harus kita capai dengan optimisme, namun tetap harus realistis melalui penguatan produktivitas, melalui peningkatan investasi, melalui percepatan industrialisasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas,” kata Pambudy.

Selain itu, ia memastikan pemerintah akan mendorong pengembangan industri strategis, meningkatkan produktivitas dan produksi pangan utama, serta mendorong produktivitas 10 juta penduduk yang berusaha dan bekerja melalui Prokesra.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...