Rupiah Berpotensi Menguat Tipis, Investor Tunggu Data Inflasi dan Perdagangan
Mata uang Garuda mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.717per dolar AS, menguat 0,03% atau 5 poin. Hingga pukul 09.26 WIB, rupiah bergerak memguat ke level Rp 17.720 per dolar AS naik 0,01% atau 2 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup Rp17.722 per dolar AS, melemah 29 poin atau 0,16% dibandingkan akhir perdagangan Jumat (28/8) di level Rp17.693 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah sendiri diperkirakan bergerak konsolidatif pada perdagangan Selasa (1/9), dengan peluang menguat terbatas terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan potensi penguatan rupiah sejalan dengan koreksi dolar AS. Namun, investor cenderung menahan diri menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi. Investor cenderung wait and see menantikan data-data inflasi dan perdagangan Indonesia siang ini,” ujar Lukman, Selasa (1/9).
Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.650-Rp 17.800 per dolar AS.
Pasar tengah menantikan data inflasi dan perdagangan Juli sebagai petunjuk mengenai kondisi ekonomi domestik serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Sementara itu, tekanan eksternal masih perlu dicermati, terutama dari harga minyak dunia dan arah kebijakan moneter AS.
