Ekspor Nonmigas ke Cina Melesat Capai US$ 40,62 M, Ditopang Nikel
Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai US$40,62 miliar pada periode Januari-Juli 2026, melesat 18,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, peningkatan ekspor nonmigas ke Cina didorong sejumlah komoditas, antara lain nikel yang melonjak hingga 59%.
Ekspor produk nikel dan barang daripadanya mencapai US$6,19 juta dan berkontribusi 15,26% dari total ekspor nonmigas. Sedagkan ekspor terbesar masih dicatatkan oleh komoditas besi dan baja mencapai US$10,63 juta dengan kontribusi mencapai 26,18%, tumbuh 2,16% secara tahunan.
Ateng juga menjelaskan, kenaikan cukup besar juga dialami ekspor bahan bakar mineral mencapai 18,09% dengan nilai mencapai US$5,85 juta dan berkontribusi sebesar 14,41% dari total ekspor nonmigas.
Tiga Besar Tujuan Ekspor
Cina menjadi salah satu dari tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2026, bersama Amerika Serikat dan India.
Secara keseluruhan, ekspor nonmigas ke ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 44,25% dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026.
Setelah Cina, Amerika Serikat mencatat nilai ekspor nonmigas sebesar US$19,19 miliar. Ekspor ke negara tersebut terutama didominasi mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya atau HS85, dengan kontribusi sebesar 15,61%.
Namun, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat mengalami penurunan 9,27% secara C2C dibandingkan periode Januari-Juli 2025.
Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke India mencapai US $11 miliar. Komoditas utama yang diekspor ke negara tersebut adalah bahan bakar mineral atau HS27, dengan kontribusi sebesar 32,30%.
