Purbaya Pede Ekonomi RI Tembus 6%, Andalkan Swasta hingga Gandeng Danantara 

Ade Rosman
1 September 2026, 18:22
purbaya,
Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia mampu tumbuh 6% pada 2027. Target ini akan dicapai dengan mendorong investasi, terutama melalui peran sektor swasta dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias Danantara. 

Purbaya mengatakan, target pertumbuhan ekonomi 6% membutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7%. Pemerintah tidak semata mengandalkan anggaran negara, tetapi menggabungkan peran pemerintah, swasta, dan Danantara.

“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi mencapai 6% di tahun 2027, dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7%,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9).

Menurut dia, pemerintah akan menggunakan investasi pemerintah sebagai katalis untuk menarik investasi swasta. Sedangkan sektor swasta akan menjadi motor utama investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Danantara akan diarahkan untuk berinvestasi pada sektor-sektor strategis, khususnya yang memiliki nilai tambah tinggi dan mendukung transformasi ekonomi nasional.

“Investasi pemerintah sebagai katalisator bagi investasi swasta sebagai motor penggerak utama investasi, sementara Danantara akan berkontribusi investasi terutama di sektor strategis dan hilirisasi,” kata dia. 

Purbaya menilai, pencapaian target pertumbuhan tersebut juga membutuhkan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara. Masing-masing instrumen, kata dia, harus bekerja secara optimal dan saling memperkuat.

APBN sendiri akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan publik sekaligus menjadi katalis guna meningkatkan peran sektor swasta dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“APBN difokuskan untuk memenuhi kebutuhan publik dan berperan sebagai katalis untuk membangkitkan peran swasta dalam akselerasi pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan,” kata Purbaya.

Di sisi lain, Purbaya menyebut, optimisme mengejar pertumbuhan 6% pada 2027 ditopang oleh kinerja ekonomi Indonesia sepanjang semester I-2026.

Dia mencatat ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,46%. Inflasi juga disebut tetap terkendali, sementara likuiditas perbankan masih memadai untuk menopang penyaluran kredit.

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2026 juga masih mencatat surplus. Sementara cadangan devisa hingga Juli 2026 mencapai US$ 145,3 miliar.

Dari sisi pasar keuangan, Purbaya menyebut sentimen positif masih berlanjut, tercermin dari apresiasi nilai tukar rupiah, penguatan IHSG, dan perkembangan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang kondusif. Aliran modal masuk hingga 28 Agustus 2026 tercatat mencapai Rp 140,6 triliun.

Kinerja APBN juga disebut masih solid. Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3% secara tahunan, sedangkan defisit APBN berada di level 0,91% terhadap PDB.

“Ketahanan ekonomi dan solidnya kinerja fiskal yang terus terjaga sepanjang 2026 menjadi landasan yang kuat bagi perumusan kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027,” kata Purbaya.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Target tersebut dibarengi dengan asumsi inflasi 2,5%, tingkat bunga SBN tenor 10 tahun 6,9%, serta nilai tukar rupiah Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pemerintah juga menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 75 per barel. Sementara lifting minyak bumi ditetapkan 612,5 ribu barel per hari dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.

Dari sisi fiskal, pendapatan negara direncanakan mencapai Rp 3.426 triliun, sementara belanja negara sebesar Rp 4.097,2 triliun. Defisit anggaran dijaga sebesar 2,40% terhadap PDB.

Purbaya mengatakan, pemerintah tetap akan melanjutkan reformasi fiskal agar target pertumbuhan dapat dicapai tanpa mengorbankan kesehatan APBN.

Sementara dari sisi pendapatan, pemerintah akan mengoptimalkan penerimaan negara dengan tetap menjaga iklim investasi. Sementara dari sisi belanja, pemerintah akan memperkuat efisiensi, refocusing, dan mengarahkan anggaran ke belanja yang lebih produktif dan berorientasi hasil.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi juga berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan pada 2027 turun menjadi 6%-6,5%, tingkat pengangguran terbuka 4,3%-4,87%, serta rasio Gini 0,362-0,367.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...