BI Pede Rupiah Menguat Tahun Depan, Ini 5 Penopangnya

Ade Rosman
1 September 2026, 18:27
destry damayanti, BI
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Destry Damayanti.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan bergerak menguat pada 2027. Kurs rupiah akan berada di kisaran Rp 17.300-Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, prospek penguatan rupiah ini akan ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari membaiknya kondisi ekonomi global hingga penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Proyeksi tersebut disampaikan di tengah tekanan terhadap mata uang negara berkembang akibat tingginya ketidakpastian ekonomi global. BI mencatat, harga minyak mentah masih berada di level sekitar US$ 89,71 per barel per 28 Agustus 2026.

Adapun nilai tukar rupiah pada 31 Agustus 2026 berada di level Rp 17.715 per dolar AS. Posisi ini menguat 1,57% dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar Rp 17.994 per dolar AS.

Destry memaparkan, setidaknya ada lima faktor yang akan menopang penguatan rupiah pada 2027. Pertama, ekonomi global diperkirakan membaik.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2027 mencapai 3,3%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 3%. Pertumbuhan ekonomi global yang membaik dan meredanya risiko geopolitik, dinilai dapat memperbaiki persepsi risiko investasi.

Kondisi itu diharapkan mendorong kembali aliran modal ke negara-negara emerging market dan mengurangi tekanan penguatan dolar AS.

Kedua, fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat. Destry mengatakan, penguatan rupiah akan ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi, inflasi yang tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%, neraca pembayaran yang sehat, serta imbal hasil investasi yang menarik.

Kondisi tersebut, menurut dia, akan mendukung perkembangan pasar keuangan sekaligus menjaga kecukupan cadangan devisa.

Ketiga, kebijakan ekspor satu pintu dan PP DHE SDA. BI memperkirakan implementasi kebijakan ekspor satu pintu serta kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) akan meningkatkan penerimaan devisa dan penerimaan negara.

“Implementasi kebijakan ekspor satu pintu dan implementasi PP DHE SDA yang diperkirakan akan meningkatkan penerimaan devisa dan penerimaan negara sekaligus memperkuat cadangan devisa dan nilai tukar rupiah,” kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9).

Keempat, BI akan terus menjaga stabilitas rupiah. Destry memastikan, bank sentral akan mempertahankan berbagai instrumen untuk meredam tekanan terhadap rupiah, termasuk intervensi valuta asing, kebijakan suku bunga, lindung nilai, serta pendalaman pasar uang dan pasar valas.

BI juga mengoptimalkan intervensi melalui pasar non-deliverable forward (NDF) di luar negeri serta transaksi spot dan domestic NDF (DNDF) di pasar domestik.

Di sisi lain, BI memperluas insentif untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Kelima, sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Destry mengatakan, koordinasi pemerintah dan BI akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing, serta memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Optimisme terhadap rupiah tersebut sejalan dengan keyakinan BI terhadap prospek ekonomi Indonesia pada 2027. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berada di kisaran 5,2%-6%, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 4,9%-5,7%.

Destry menyebut, kenaikan pertumbuhan tersebut antara lain akan ditopang oleh meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi serta kenaikan investasi, khususnya investasi yang berasal dari Danantara.

Sementara di sisi stabilitas harga, BI memperkirakan inflasi 2027 tetap berada dalam sasaran, yakni 1,5%-3,5%. BI tetap mewaspadai risiko global yang dapat memberikan tekanan terhadap rupiah. Ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak, suku bunga Amerika Serikat, serta potensi aliran modal keluar dari negara berkembang masih menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...