Rupiah Menguat Tipis di Tengah Memanasnya Konflik Iran-AS
Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 6 poin ke level 17.634 terhadap dolar Amerika Serikat. Pelaku pasar dinilai masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah sempat menguat hingga 40 poin ke level Rp 17.632 dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp 17.640 per dolar AS. Namun, bergerak melemah hingga penutupan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan mempengaruhi kurs rupiah. Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sasaran aksi balasan apabila serangan terhadap aset Iran terus berlanjut.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan rantai produksi minyak dan gas di kawasan Teluk sangat luas, mudah diakses, sekaligus rentan terhadap serangan.
"Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik. Kami telah membuktikannya," kata Qalibaf.
Menurut Ibrahim, Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar minyak. Iran menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran bahwa pengawasan maritim yang lebih ketat dapat semakin memperlambat lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut.
Meski demikian, terdapat sedikit sentimen positif dari perkembangan diplomasi. Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan di Selat Hormuz hampir tercapai.
Ia menilai, pergerakan rupiah selanjutnya juga akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS. Pasar akan mencermati data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan terbit pada Kamis, disusul Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.
“Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim.
Pelaku pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan. Ekspektasi tersebut meningkat setelah laporan nonfarm payrolls AS pada pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat.
Cadangan Devisa Naik
Di sisi lain, Ibrahim menilai masih terdapat sentimen positif dari dalam negeri, terutama berasal dari posisi cadangan devisa Indonesia yang kembali meningkat. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, naik dari posisi akhir Juli 2026 sebesar US$145,3 miliar.
BI menyebut peningkatan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Kondisi cadangan devisa tersebut mampu menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia,” kata Ibrahim.
