Ekonomi Global Masuk Era Bunga Tinggi, BI Waspadai Risiko Modal Asing Keluar RI
Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia akan semakin menantang di tengah era suku bunga tinggi yang diperkirakan berlangsung lebih lama atau higher for longer. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mendorong capital flight atau keluarnya arus modal dari negara berkembang.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) yang masih relatif solid menjadi salah satu faktor yang membuat suku bunga global berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu lebih lama. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, AS juga masih menghadapi tekanan inflasi, antara lain akibat kenaikan harga minyak yang telah menembus US$100 per barel.
Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terus meningkat dan kini mendekati 5%, jauh di atas kondisi normal yang berada di kisaran 3%. Selain itu, sekitar 70% pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada September-Oktober 2026.
"Kami menyebutnya ini adalah situasi higher for longer," ujar Destry saat rapat bersama DPR, Senin (14/9).
Menurut Destry, situasi tersebut menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingginya suku bunga dan yield obligasi AS membuat aset-aset berdenominasi dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Risiko Capital Outflow
Bagi negara berkembang, kondisi higher for longer menjadi situasi yang kurang menguntungkan. Salah satu risiko yang dihadapi adalah terjadinya fly to quality asset, yakni perpindahan dana investor menuju aset yang dianggap lebih aman sekaligus menawarkan imbal hasil yang menarik.
Dalam kondisi tersebut, investor global cenderung meningkatkan kepemilikan dolar AS atau mengalihkan investasi ke sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek keuntungan tinggi. Apalagi, BI memperkirakan ekonomi AS akan tetap tumbuh kuat pada tahun depan, meningkat dari sekitar 3% pada tahun ini menjadi 3,3%.
"Kecenderungannya, investor akan pegang dolar atau kemudian juga mereka akan menginvestasikan pada sektor-sektor yang memang masih di luar sektor kita, yaitu teknologi, AI, robotik dan sebagainya," ujar Destry.
Menurut dia, sektor teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan robotika menjadi salah satu daya tarik investasi di AS. Investor dinilai masih memiliki minat besar terhadap sektor-sektor tersebut karena menawarkan potensi return yang tinggi.
"Ini yang menyebabkan kenapa di Amerika dengan pusat seperti itu mereka masih terus banyak investasi. Walaupun juga mungkin mereka enggak masuk ke bond-nya lagi tapi mereka masuk kepada sektor-sektor yang akan mendatangkan return besar," kata Destry.
