Jurus Perkuat Rupiah: Tahan Keuntungan Investor Asing di RI

Image title
16 September 2026, 14:41
suku bunga, rupiah
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 6% sepanjang tahun ini. Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja menilai, penguatan kurs rupiah dapat didorong, antara lain melalui peningkatan reinvestasi dari investor asing.

"Jawabannya ada di reinvestment, karena sebenarnya di Indonesia itu investasi banyak tapi kalau kita lihat setiap kuartal, US$9 miliar selalu dikembalikan ke negara asal dalam bentuk pembayaran dan dividen," kata Enrico, Selasa (15/9).

Ia menilai, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang jika investor asing yang memperoleh keuntungan kembali menanamkan investasinya lagi.  

"Jadi kalau kita itu sukseskan, mereka akan tertahan disini otomatis, they will reinvest. Jadi, keuntungan mereka, investasikan lagi, masukin orang, teknologi dia stay, angka US$9 miliar bisa turun jadi setengahnya," ujarnya. 

Enrico mengatakan keberhasilan mempertahankan dana investor asing di dalam negeri akan memberikan dampak positif terhadap posisi eksternal Indonesia. 

Untuk itu ia menilai kebijakan investasi ke depan perlu diarahkan tidak hanya untuk mendatangkan modal baru, tetapi juga memastikan keuntungan dari investasi tersebut kembali diputar di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebelumnya menegaskan bahwa upaya menjaga dan memperkuat nilai tukar rupiah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate. Kebijakan suku bunga tak hanya akan berdampak pada rupiah tetapi juga pertumbuhan ekonomi. 

“Walaupun tekanan pada rupiah saat itu tinggi, tapi kami tidak bisa menaikkan begitu saja BI Rate untuk men-support nilai tukar rupiah. Karena kami lihat ada PR lain, yakni pertumbuhan kita ini masih di bawah potensial levelnya,” ujar Destry.

Sebagai alternatif, menurut dia, BI menggunakan kebijakan pendukung, terutama melalui pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas). Kebijakan tersebut antara lain dilakukan dengan memberikan insentif serta menekan biaya lindung nilai (hedging cost) agar relatif lebih murah.

Menurut Destry, langkah tersebut diperlukan untuk mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Ia menyebut kebijakan tersebut telah menunjukkan hasil, dengan aliran dana masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN).

“Alhamdulillah itu juga tercapai, sehingga baik SRBI ataupun SBN juga sudah mengalami inflow, dan itu sedikit banyak menambah supply valas juga di market,” katanya. 

Destry menjelaskan, BI selama ini menjalankan berbagai instrumen secara bersamaan melalui konsep bauran kebijakan Bank Indonesia. Bauran tersebut mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung.

Salah satu fokus yang ingin terus dikembangkan BI, menurut Destry, adalah pendalaman pasar uang dan pasar valas. Menurutnya, pasar keuangan yang semakin dalam akan menjadi kebutuhan penting seiring dengan ambisi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

“Karena Indonesia ini sedang bertumbuh, apalagi dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah 8%, pasti akan butuh financing yang besar,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...