Rupiah Melemah Tipis di Tengah Gangguan Pasokan Minyak dan Sentimen The Fed
Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis 2 poin ke level 17.696 per dolar AS pada perdagangan Rabu (16/9). Tekanan pada rupiah, antara lain terjadi seiring gangguan pasokan minyak di Timur Tengah yang masih berlanjut.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, Arab Saudi dilaporkan menghentikan pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu setelah menutup pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline) di tengah serangan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran. Kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada pekan ini. Riyadh menyatakan telah mencegat sebuah pesawat nirawak (drone) di sebelah selatan Kota Suci Mekkah pada Rabu dini hari.
Pada awal bulan ini, kelompok Houthi disebut berhasil menguasai sejumlah posisi strategis di sepanjang Laut Merah yang memungkinkan mereka menyerang kapal tanker di Selat Bab el-Mandeb.
"Agresi Houthi terhadap Arab Saudi diperkirakan akan mengganggu sekitar 4% hingga 5% pasokan minyak global," kata Ibrahim.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.
Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Investor juga akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru The Fed serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang hampir 92,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan September.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ada sentimen dari pergantian menteri keuangan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga disiplin dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut dia, pemerintah perlu mempertahankan kapasitas fiskal untuk menopang pertumbuhan sekaligus memastikan penggunaan instrumen fiskal dilakukan dengan aturan dan koordinasi yang jelas.
Komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai tetap penting untuk mempertahankan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia.
Namun, kondisi global yang masih ditandai mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi fiskal.
Bank Indonesia juga melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar pada Juli 2026. Dengan menggunakan kurs JISDOR 30 Juli 2026 sebesar Rp18.058 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 8.211,8 triliun.
Posisi ULN tersebut tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/yoy). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta.
ULN publik tercatat sebesar US$218,4 miliar atau tumbuh 3,2% yoy. Bank Indonesia menilai posisi ULN pemerintah masih relatif aman dan terkendali karena hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang berjangka panjang.
