Flobamorata Creative Expo 2026 Catat Transaksi UMKM Rp 609,9 Juta
Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 yang digelar di Lippo Plaza Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat total penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp 609,9 juta selama tiga hari penyelenggaraan.
Selain transaksi langsung, kegiatan yang berlangsung pada 2-4 Oktober 2026 itu menghasilkan letter of intent (LoI) dari business matching ekspor senilai sekitar Rp 27 miliar per tahun.
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan adalah rencana ekspor kakao antara koperasi petani kakao di Kabupaten Sikka dengan pembeli asal Australia. Pengiriman awal disepakati sebanyak 20 ton kakao dengan nilai sekitar Rp 1,1 miliar.
FCE 2026 diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT bersama Pemerintah Provinsi NTT sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif daerah.
Kegiatan tersebut merupakan transformasi dari Exotic Tenun Fest (ETF) dengan cakupan yang lebih luas. Jika sebelumnya berfokus pada tenun, FCE kini mengembangkan sejumlah komoditas unggulan NTT, termasuk wastra, kopi, dan kuliner.
Selama tiga hari, FCE 2026 menggelar berbagai kegiatan seperti masterclass, talkshow, kompetisi, pameran UMKM, edukasi, aktivasi masyarakat hingga hiburan.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan”. FCE juga membawa semangat “Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk bersama-sama, saling peduli dan menguatkan, terutama bagi masyarakat yang terdampak bencana di Pulau Flores.
Dihadiri 65.200 Pengunjung
Dari sisi partisipasi masyarakat, FCE 2026 mencatat 65.200 kunjungan selama tiga hari. Sebanyak 59.900 kunjungan tercatat di area dalam Lippo Plaza berdasarkan data manajemen Lippo Mall, sedangkan 5.300 kunjungan berasal dari area luar berdasarkan data penyelenggara acara.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai transformasi Exotic Tenun Fest menjadi Flobamorata Creative Expo merupakan langkah untuk memperluas potensi ekonomi kreatif daerah.
Menurut dia, ekonomi kreatif tidak sebatas menghasilkan produk atau menghadirkan pameran. Sektor tersebut juga dapat memperkuat identitas budaya, menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong FCE menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi dan memperluas jejaring, sekaligus mempercepat transformasi ekonomi daerah berbasis kreativitas dan inovasi," ungkap Emanuel dalam keterangannya, dikutip Selasa (6/10).
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan FCE dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai potensi unggulan NTT sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan penciptaan lapangan kerja. Menurut Destry, potensi ekonomi NTT tidak hanya berasal dari tenun, tetapi juga kopi, kelor, kuliner, serta berbagai produk kreatif lainnya.
BI mendorong pengembangan potensi tersebut melalui pendekatan ekonomi kerakyatan, salah satunya dengan memperkuat sektor UMKM dan sinergi dengan pemerintah pusat maupun daerah.
"Untuk itu, Bank Indonesia senantiasa menjalin sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mendorong ekonomi kerakyatan demi perekonomian yang tumbuh dan berdaya tahan," ucap Destry.
Himpun Donasi Rp 29,1 Juta untuk Korban Bencana Flores
Selain mendorong aktivitas ekonomi, FCE 2026 juga menjadi wadah penggalangan dukungan bagi masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores. Penggalangan dana dilakukan melalui sejumlah kanal, antara lain QRIS ChariTree, kontribusi dari penjualan UMKM, serta lelang tenun.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, terkumpul tambahan donasi sebesar Rp 29,1 juta yang akan digunakan untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Flores.
Pada pembukaan FCE, BI juga menyerahkan dukungan kepada Pemerintah Provinsi NTT untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari pangan, obat-obatan, tempat tinggal sementara hingga keberlanjutan pendidikan anak-anak. Dukungan pemulihan tersebut juga mencakup penyediaan fasilitas sanitasi, akses air bersih, serta sarana pembelajaran.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso mengatakan, FCE 2026 dirancang dengan kerangka 3I+S, yakni impactful, inclusive, integration, dan synergy. Konsep tersebut diarahkan agar pengembangan UMKM tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi berlanjut pada peningkatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar.
Ke depan, BI NTT menyatakan akan terus mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas, perluasan pasar, pelestarian budaya, hilirisasi komoditas, digitalisasi, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Fokus tersebut terutama diarahkan pada sektor wastra, kopi, dan kuliner agar pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produk, nilai tambah, serta kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.

Produk UMKM Unggulan 