Menkeu Sebut Tekanan Ekonomi Meningkat pada Oktober, MSCI Salah Satu Faktornya

Ade Rosman
3 November 2026, 21:09
msci, menkeu, makro
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kedua kiri) didampingi Wakil Menteri Keuangan Nurkholisoh Ibnu Aman (kiri), Juda Agung (kedua kanan), dan Luky Alfirman (kanan) menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyebut tekanan terhadap perekonomian Indonesia meningkat memasuki Oktober 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik, pengetatan kebijakan moneter global, hingga mengetatnya likuiditas domestik.

Bendahara negara menuturkan, tekanan global tersebur juga turut memengaruhi pasar keuangan dalam negeri. Suahasil juga mengatakan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kondisi pasar saham Indonesia juga menambah tekanan terhadap pasar domestik dan mendorong peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.

“Tekanan kembali meningkat memasuki bulan Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat, serta kondisi domestik yang ditandai dengan mengetatnya likuiditas,” kata Suahasil dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV tahun 2026, yang digelar di Jamarta, Selasa (3/11).

Suahasil mengatakan, meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar juga menyebabkan arus modal keluar dari pasar saham semakin besar. Ia mengatakan, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia dan respons kebijakan yang adaptif masih mampu menjaga stabilitas sistem keuangan.

Menurut Suahasil, tekanan terhadap perekonomian global juga terlihat dari eskalasi konflik geopolitik yang belum mereda sehingga mendorong tingginya harga minyak dan berbagai komoditas lainnya.

Selain itu, kebijakan moneter global diperkirakan tetap ketat dalam jangka waktu lebih panjang. Sejumlah bank sentral negara utama, seperti Federal Reserve Amerika Serikat (AS), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Tekanan lainnya berasal dari imbal hasil atau yield US Treasury yang masih tinggi. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS serta besarnya defisit anggaran pemerintah negara tersebut.

Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang juga masih relatif terbatas. Hal ini membuat indeks dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun berkembang.

“Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke emerging markets termasuk Indonesia, dan perkembangan ini akan terus kita pantau dan kita mitigasi dampaknya,” kata Suahasil.

Suahasil mengatakan, meski menghadapi tekanan eksternal sedemikian rupa, kondisi perekonomian Indonesia masih dapat menunjukkan ketahanan.  Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik pada triwulan III 2026 tetap kuat dengan dukungan permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.

Pemerintah memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,4-5,5% secara tahunan sepanjang 2026. Konsumsi rumah tangga ditopang oleh stimulus fiskal, sedangkan investasi didorong proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur.

Di sisi lain, Suahasil memastikan KSSK akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan sektor keuangan melalui asesmen ke depan serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi rambatan risiko global.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...