Ekspektasi OPEC+ Pangkas Produksi, Harga Minyak Naik Dua Hari Berturut

Harga minyak telah naik dua hari berturut-turut didorong harapan pasar Arab Saudi, Rusia, dan AS dapat sepakat untuk memangkas produksinya.
Image title
8 April 2020, 09:26
harga minyak mentah, pandemi corona
skkmigas.go.id
Penambangan minyak mentah. Harga minyak naik untuk dua hari berturut-turut di tengah pasar yang berharap Arab Saudi, Rusia, dan AS dapat memangkas produksinya untuk menopang harga.

Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (8/4) pagi waktu Indonesia. Adapun kenaikan pada dua hari terakhir ini telah membalikkan sebagian besar koreksi harga minyak yang terjadi pada beberapa sesi sebelumnya.

Kenaikan harga minyak dipicu harapan investor pada  pertemuan anggota OPEC + yang akan digelar besok, Kamis (9/4), akan dapat menghasilkan kesepakatan pemangkasan produksi. Pemangkasan produksi diperlukan untuk menopang harga minyak yang telah jatuh dari level US$ 60 per barel sejak awal tahun ini selama pandemi global virus corona.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 08.00 WIB Rabu, harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2020 naik 2,45% menjadi US$ 32,65 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2020 naik 5,71% menjadi US$ 24,98 per barel.

Pertemuan besok diharapkan dapat berakhir lebih baik dibandingkan pertemuan pada awal Maret 2020 yang berakhir dengan kegagalan untuk memperpanjang waktu pemangkasan produksi dan menyebabkan perang harga antara Arab Saudi-Rusia di tengah permintaan minyak yang menurun.

(Baca: Pertamina EP Pangkas Produksi jika Harga Minyak Indonesia Capai US$ 30)

Meski begitu, masih ada keraguan tentang peran Amerika Serikat (AS) dalam pemangkasan produksi. Arab Saudi dan Rusia menyatakan hanya akan memangkas produksinya lebih lanjut jika AS juga mengikuti langkah tersebut. 

"Arab Saudi dan Rusia terus menuntaskan kesepakatan, yang jelas adalah bahwa AS harus terlibat," sebut ANZ Research dalam sebuah catatan seperti dikutip Reuters.

Sementara, Departemen Energi AS mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak di AS diperkirakan akan mengurangi produksi minyak sementara hingga hampir 2 juta barel per hari. Hal ini, lantaran harga minyak mentah yang lebih rendah memaksa perusahaan untuk mengurangi operasi.

"Sektor swasta dan pasar bebas mendorong pemotongan itu," kata Departemen Energi AS mengenai proyeksi dalam laporan Energy Information Administration (EIA). Menurut EIA, AS merupakan produsen minyak dan gas alam terbesar di dunia, memompa rekor lebih dari 12 juta barel per hari (bpd) pada 2019.

(Baca: Harga Minyak Anjlok, SKK Migas Selektif Kembangkan Proyek Hulu Migas)

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait