Arab Saudi dan Rusia Minta AS Juga Pangkas Produksi, Harga Minyak Naik

Harga minyak masih dalam tekanan hingga Arab Saudi, Rusia, AS, dan produsen minyak lainnya sepakat memangkas produksi.
Image title
7 April 2020, 09:36
harga minyak
KATADATA
Kilang minyak. Harga minyak mentah dunia naik tipis pagi ini dan masih berada dalam tekanan hingga Arab Saudi, Rusia, AS, dan produsen minyak lainnya sepakat untuk memangkas produksi.

Harga minyak mentah dunia naik tipis pada perdagangan Selasa (7/4) pagi waktu Indonesia. Meski begitu, harga minyak masih tertekan perang harga antara Arab Saudi-Rusia yang masih menunda pertemuan untuk membahas pemangkasan produksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 07.45 WIB Selasa, harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2020 naik 2,18% menjadi US$ 33,77 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2020 naik 3,64% menjadi US$ 27,03 per barel.

"Penundaan dalam pertemuan OPEC + memicu banyak aksi jual hari ini sebagai akibat dari perbedaan pandangan antara Rusia dan Saudi yang kemungkinan akan menghalangi kesepakatan pada hari Kamis," kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, seperti dikutip Reuters.

Namun, pertemuan kelompok OPEC +, yang semula dijadwalkan Senin, ditunda hingga Kamis setelah Rusia menolak rencana pemangkasan produksi 1,5 juta barel per hari pada bulan lalu. Padahal permintaan bahan bakar turun sekitar 30% di seluruh dunia karena virus corona, sementara negara-negara itu membanjiri pasar dengan pasokan yang tidak dibutuhkan.

Advertisement

(Baca: Pasar Tak Yakin Akan Prospek Pasokan, Harga Minyak Turun 7,5%)

Pada Senin, Kirill Dmitriev, salah satu negosiator minyak utama Rusia, mengatakan bahwa negaranya dan Arab Saudi hampir mencapai kesepakatan untuk memangkas produksi, tapi hal itu tidak akan terjadi jika AS tidak ikut serta. "Tanpa AS tidak akan ada kesepakatan," ujarnya.

Namun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa belum ada permintaan untuk memangkas produksi minyak AS. "Harga minyak AS juga sudah turun secara otomatis, tapi tidak ada permintaan itu. Jadi kita lihat saja apa yang akan terjadi," ujarnya Senin sore waktu setempat. 

Adapun OPEC + sedang membahas kesepakatan guna memangkas produksi sekitar 10% dari pasokan dunia, atau 10 juta barel per hari (bpd). Tetapi negara anggota OPEC + menginginkan hal ini itu menjadi upaya global, terutama Amerika Serikat (AS) yang saat ini memimpin dalam hal kapasitas produksi.

Pasar minyak dunia bangkit lebih dari 35% pada pekan lalu di tengah harapan Arab Saudi dan Rusia akan sepakat memangkas produksinya. Meski demikian dua negara produsen minyak terbesar dunia tersebut akhirnya tidak mencapai kesepakatan.

(Baca: Globalisasi dan Rantai Pasok Dunia yang Terkunci Pandemi Covid-19)

Meski demikian, analis pasar minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen, mengatakan bahwa jika kesepakatan tersebut berhasil dicapai, dunia masih kelebihan pasokan hingga 23 juta barel per hari pada April 2020.

Adapun harga minyak WTI turun lebih dalam daripada harga minyak Brent, yang merupakan acuan harga minyak global, setelah laporan dari Genscape menunjukan bahwa persediaan di pusat penyimpanan Cushing di Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, naik sekitar 5,8 juta barel pekan lalu.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait