Jepang Berstatus Darurat Corona, Siapkan Stimulus Rp 15.978 Triliun

Status darurat ditetapkan setelah jumlah kasus positif virus corona di Tokyo lompat hingga dua kali lipat menjadi lebih dari 1.000 orang.
Image title
7 April 2020, 07:46
status darurat, virus corona, covid 19, jepang
ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato/wsj/dj
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan Jepang akan menetapkan status darurat corona paling cepat hari ini, Selasa (7/4), setelah kasus positif corona di Tokyo melonjak dua kali lipat dalam sepekan.

Jepang akan segera menetapkan status darurat di ibu kota Tokyo dan enam wilayah lainnya. Hal ini lantaran jumlah kasus positif virus corona di Tokyo melonjak hingga dua kali lipat hanya dalam sepekan, menjadi lebih dari 1.000 orang.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengungkapkan bahwa status darurat tersebut kemungkinan paling cepat ditetapkan mulai hari ini, Selasa (7/4). Dia juga mengumumkan paket stimulus jumbo untuk meredam dampak  Covid-19 terhadap perekonomiannya.

“Status darurat akan berlangsung selama satu bulan, mencakup Tokyo, Osaka, dan lima prefektur lainnya,” kata Abe seperti dikutip BBC.com.

Dengan berlakunya status darurat, gubernur di kelima prefektur tersebut memiliki kuasa untuk menutup sekolah dan perkantoran. Meski demikian, pemerintah tidak memiliki hak hukum untuk memaksa warganya melakukan karantina di rumah.

Advertisement

(Baca: Jepang Larang Masuk Pendatang dari 73 Negara, Termasuk Indonesia)

“Di Jepang, meski kami menetapkan status darurat, kami tidak akan mengkarantina kota-kota di sini seperti yang terjadi di negara lain. Ahli kami menyatakan bahwa saat ini belum dibutuhkan langkah tersebut,” terang Abe.

Abe mengungkapkan bahwa pemerintah Jepang telah menyiapkan paket stimulus sebesar US$ 990 miliar atau sekitar Rp 15.978 triliun (kurs Rp 16.140/US$) untuk mendorong perekonomian meredam dampak dari Covid-19.

Jumlah kasus positif corona di Jepang sebenarnya lebih rendah dibandingkan negara Asia lainnya, yakni 3.654 hingga Senin (6/4) menurut data Worldometers. Sementara jumlah korban meninggal tercatat 85 orang, serta 575 orang berhasil sembuh.

Namun lonjakan kasus yang siginifikan di Tokyo sepekan terakhir menimbulkan kekhawatiran meledaknya wabah di salah satu kota terbesar dunia tersebut.

(Baca: Satu Pasien Positif Corona di Indonesia Pernah Pergi ke AS dan Jepang)

Bahkan pemerintah Jerman dan Amerika Serikat (AS) mengkritik kegagalan pemerintah Jepang menetapkan kebijakan social distancing ataupun melakukan tes Covid-19 secara luas terhadap warganya.

Bahkan pelajar sudah kembali masuk ke sekolah mulai kemarin. Sedangkan Olimpiade Tokyo dinyatakan akan dimulai pada 23 Juli 2021 setelah mengalami penundaan selama setahun karena pandemi global corona.

Beberapa ahli kesehatan di Jepang bahwa langkah pemerintah menetapkan status darurat saat ini sudah terlambat, dan kondisi penularan virus di Tokyo sudah tidak dapat dikendalikan dengan mudah.

(Baca: Singapura Tambah Stimulus Rp 58 Triliun, Redam Dampak Ekonomi Corona)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait