Ekspor Masker hingga Antiseptik Dilarang, Denda Capai Rp 5 Miliar

Larangan ekspor masker hingga antiseptik dan alat pelindung diri lainnya akan diberlakukan hingga 30 Juni 2020.
Image title
18 Maret 2020, 16:24
larangan ekspor masker, agus suparmanto, ekspor masker
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.
Masyarakat menggunakan masker kesehatan sebagai upaya perlindungan diri agar tidak terpapar virus corona, Covid-19.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto resmi melarang ekspor antiseptik, bahan baku masker, alat pelindung diri, dan masker untuk sementara. Eksportir yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenakan sanksi denda paling banyak Rp 5 miliar.

Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker, yang berlaku mulai hari ini, Rabu 18 Maret 2020 hingga 30 Juni 2020.

Pasal 3 dalam Permendag itu menyebutkan, eksportir yang melanggar ketentuan dikenaik sanksi seusai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan pada Pasal 112 ayat (1) menyebutkan, eksportir yang mengekspor barang yang ditetapkan sebagai barang yang dilarang untuk diekspor dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5 miliar.

Advertisement

(Baca: BPS Catat Ekspor Masker Selama Februari Melonjak 34 Kali Lipat)

Adapun, jenis antiseptik yang dilarang ekspornya hingga 30 Juni 2020 terdiri atas antiseptik hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya yang berbasis alkohol. Kemudian, hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya yang mengandung campuran asam ter batu bara dan alkali.

Selanjutnya, hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya dalam kemasan aerosol serta hand rub, hand sanitizer dan sejenisnya selain yang mengandung campuran asam ter batubara dan alkali, serta tidak dalam kemasan aerosol.

Kemudian, bahan baku masker yang dilarang meliputi kain bukan tenunan jenis meltblown nonwoven terbuat dari filamen buatan dengan berat tidak lebih dari 25 g/m2.

Untuk alat pelindung diri, ekspor barang yang dilarang meliputi pakaian pelindung medis dan pakaian bedah. Sementara, ekspor masker yang dilarang meliputi masker bedah dan masker lainnya dari bahan nonwoven, selain masker bedah.

(Baca: Permintaan Membeludak, Pemerintah Akan Larang Ekspor Masker)

Aturan ini dikeluarkan lantaran tingginya permintaan masker, antiseptik, dan alat pelindung diri di tengah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang sempat membuat produk-produk ini langka di pasar atau dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Di tengah tingginya permintaan di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) malah mencatat ekspor masker kesehatan melonjak hingga 34 kali lipat pada Februari 2020 dibandingkan bulan sebelumnya.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait