70% Pendapatan Disumbang Telkomsel, Erick: Lebih Baik Tidak Ada Telkom

Erick menginginkan bagian dividen yang jelas untuk negara dari Telkom.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
12 Februari 2020, 18:03
erick thohir, telkom, telkomsel, bumn
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri BUMN Erick Thohir mengkritisi kinerja Telkom yang pendapatannya bertumpu pada bisnis entitas anaknya, Telkomsel.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengkritisi kinerja PT Telekomunikasi Indonesia atau Telkom yang 70% pendapatan konsolidasiannya disumbangkan oleh anak usahanya yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).

Menurutnya, jika kondisinya seperti itu lebih baik induknya tidak ada. Hal ini supaya Kementerian BUMN mendapatkan  pembagian dividen yang lebih jelas. "Lebih baik tidak ada Telkom, langsung dimiliki oleh Kementerian BUMN, dividennya lebih jelas," kata Erick di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (12/2).

Meski demikian, dia juga memberi saran agar Telkom melakukan perbaikan bisnis, misalnya beralih ke bisnis database, big data, dan cloud. "Kami inginnya Telkom mengubah arah bisnis, salah satunya ke database, big data, cloud. Masa cloud Telkom dipegang oleh ahli dari luar negeri, dan data base kita diambil negara lain," ujarnya.

(Baca: Bisnis Internet dan Data Seluler Naik, Laba Bersih Telkom Tumbuh 15,6%)

Adapun hingga triwulan III 2019 Telkom membukukan kenaikan laba bersih sebesar 15,6% secara tahunan menjadi Rp 16,45 triliun dari Rp 14,23 triliun pada tahun sebelumnya.

Telkom juga membukukan pendapatan sebesar Rp 102,63 triliun, naik 3,4% secara tahunan dari Rp 99,20 triliun tahun sebelumnya. Bisnis internet dan data selular menyumbang pendapatan terbesar yakni Rp 41,24 triliun. Angka tersebut tumbuh 28,3% secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 32,12 triliun.

Meski begitu, sumber pendapatan perusahaan lainnya mengalami penurunan seperti pendapatan telepon, baik mobile maupun non-mobile, turun 17,1% secara tahunan menjadi Rp 23,14 triliun dari Rp 27,94 triliun tahun sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut, Erick juga mengkritisi PLN. Dia menyebutkan bahwa saat ini teknologi sudah berkembang pesat, sehingga PLN harus siap menghadapi perubahan, termasuk mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT). "Kalau PLN tidak siap, perubahan itu akan berat. Apalagi ini tuntutan jamannya energi terbarukan," ujarnya.

(Baca: Ekspansi Jaringan 4G, Telkom Serap Capex Rp 15,1 T pada Semester I)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait