Harga Minyak Terus Turun Dekati US$ 50, OPEC Bakal Pangkas Produksi

Harga minyak dunia terus turun terimbas wabah virus corona yang menekan permintaan energi dunia. OPEC akan pangkas produksi untuk menopang harga.
Image title
7 Februari 2020, 10:02
harga minyak mentah, opec pangkas produksi, virus corona
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak terus turun ke level terendahnya dalam sepuluh bulan terakhir.

Harga minyak mentah dunia semakin mendekati level US$ 50 per barel akibat merebaknya virus corona yang menekan permintaan energi global. Untuk menahan penurunan lebih dalam, OPEC+Rusia terus mempertimbangkan untuk memangkas produksi lebih banyak lagi.

Dikutip dari Bloomberg pada pukul 8.28 WIB hari ini, Jumat (7/2), harga minyak Brent untuk kontrak April 2020 naik 0,73% ke level US$ 55,33 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 naik 0,69% menjadi US$ 51,30 per barel.

Namun sepanjang tahun ini atau secara year to date (ytd) harga minyak telah turun dari level US$ 63 - 69 per barel mendekati level terendahnya dalam sepuluh bulan terakhir.

"Pemangkasan produksi mungkin diperlukan agar harga minyak bisa keluar dari tekanan turunnya permintaan dalam jangka pendek," kata analis Price Futures Group di Chicago Amerika Serikat (AS), Phil Flynn dikutip dari Reuters.

Advertisement

(Baca: Harga Minyak Terkerek Seiring Kabar Pengembangan Antivirus Corona)

Menurut sumber, merebaknya virus corona telah melemahkan permintaan energi global. Maka itu, Joint Technical Committee (JTC) OPEC+ merekomendasikan pemangkasan produksi minyak sementara sebesar 600.000 barel per hari (bpd).

Adapun JTC OPEX+ mengusulkan agar pemotongan segera dimulai dan dipertahankan hingga Juni 2020 jika semua anggota menyetujuinya. Biarpun begitu, keputusan tidak berada di tangan JTC yang hanya bisa memberikan rekomendasi.

Sementara itu di Tiongkok penjualan jangka pendek minyak mentah dan gas alam cair (LNG) hampir terhenti pekan ini akibat virus corona yang memperlambat aktivitas ekonomi dan memangkas permintaan.

(Baca: SKK Migas: Harga Minyak Turun Tak Ganggu Investasi Migas di Indonesia)

Perusahaan migas asal Tongkok, Sinopec, pun telah memangkas laju produksi di fasilitas kilangnya. Hal ini lantaran virus tersebut telah memangkas permintaan untuk bahan bakar olahan.

Pelaku pasar menyebut turunnya permintaan bahan bakar pesawat di seluruh dunia karena virus corona yang mematikan itu juga memukul harga produk minyak AS, yang jatuh ke level terendah secara musiman dalam lima tahun.

Sebelumnya OPEC dan sekutunya termasuk Rusia juga telah membahas dampak virus corona terhadap permintaan minyak dunia. Namun Rusia memberi sinyal bahwa mereka tak mendukung pemangkasan produksi lebih jauh.

(Baca: Harga Minyak Naik Tipis Dihantui Dampak Virus Corona Terhadap Konsumsi)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait