Pemerintah Waspadai Virus Corona Memukul Pariwisata dan Investasi RI

Wabah virus corona akan berdampak terhadap sektor pariwisata RI dan sektor lainnya yang mengimpor bahan baku dari Tiongkok.
Dimas Jarot Bayu
3 Februari 2020, 12:58
dampak virus corona, sektor pariwisata, ekonomi indonesia
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Alat pendeteksi suhu tubuh penumpang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Wabah virus corona diprediksi akan berdampak pada sektor pariwisata, dan investasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai wabah virus corona bakal berdampak bagi perekonomian Indonesia. Airlangga mengatakan, salah satu sektor yang akan terdampak adalah pariwisata.

Hal ini lantaran Indonesia bakal menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok mulai Rabu (5/2) pukul 00.00 WIB. Dengan demikian, wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari Tiongkok akan merosot jumlahnya saat penerbangan ditutup.

Jumlah wisman dari Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia menempati peringkat kedua terbesar setelah Malaysia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 160.446 kunjungan wisman Tiongkok pada Oktober 2019 lalu.

"Pasti terkait industri pariwisata, penerbangan, dan semua orang membatalkan perjalanan. Semua orang khawatir pergi ke bandara," kata Airlangga dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (3/2).

(Baca: Pariwisata Malaysia Terdampak Corona, Turis Tiongkok Ramai ke Bali)

Airlangga juga menilai ada beberapa sektor industri yang terdampak akibat mewabahnya virus corona di Tiongkok. Sebab, beberapa sektor industri tersebut memasok bahan bakunya dari Negara Tirai Bambu.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menambahkan, virus corona juga dapat berdampak kepada investasi di Indonesia. Apalagi, Tiongkok merupakan investor ketiga terbesar setelah Singapura dan Jepang.

Total investasi Tiongkok sejak 2014 hingga kuartal III/2019 mencapai US$ 13,1 miliar. "Kecil atau besar (dampaknya) saya belum bisa memutuskan, tapi kalau ditanya dampak, ada," kata Bahlil.

Kendati, Bahlil menilai dampak tersebut baru terjadi jika wabah virus corona terus berlanjut hingga lebih dari dua bulan. Jika masalah tersebut bisa selesai dalam waktu dua atau tiga pekan, dia menilai hal tersebut masih bisa ditangani.

(Baca: BKPM: Investasi Tiongkok Turun Jika Virus Corona Tak Tuntas 2 Bulan)

Karenanya, Bahlil berharap agar wabah virus corona bisa segera ditangani. "Kalau dua atau tiga pekan ini masih okelah. Kalau sudah di atas dua bulan, ini perlu kita kaji dan pasti ada dampaknya," kata Bahlil.

Sekadar informasi, penyakit virus corona hingga 3 Februari telah menewaskan 361 orang di Tiongkok dan 1 orang di Filipina. Menurut laporan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok (China’s National Health Commission) hingga Senin (3/2), ada tambahan korban meninggal sebanyak 57 orang, dan 2.829 kasus baru infeksi virus corona.

Sehingga total korban terinfeksi virus corona telah mencapai 17.502. Sebanyak 2.110 pasien mengalami gangguan kesehatan serius. Rata-rata penambahan kasus positif virus corona di Tiongkok sebanyak 2.000 kasus per hari dalam beberapa hari laporan terakhir.

Hingga saat ini, sebanyak 14 kasus positif virus corona terjadi di 23 negara di luar Tiongkok dengan total menjadi 146 kasus. Kendati demikian belum ada penambahan negara baru yang terdeteksi penyakit tersebut.

(Baca: Dihantam Virus Corona Usai Libur Imlek, Bursa Tiongkok Rontok 8,73%)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait