Tingkatkan Investasi dan Koneksi, BUMN Akan Bentuk Holding Penerbangan

Pembentukan holding bertujuan agar investasi di sektor penerbangan dapat ditingkatkan tanpa harus bergantung dari dana pemerintah.
Image title
15 April 2019, 17:38
Pesawat Garuda di Hangar GMF,  Tanggerang,  Banten (2/3). Jika holding sektor penerbangan terbentuk, Garuda Indonesia akan menjadi anak usaha Survai Udara Penas yang akan ditunjuk sebagai induk holding penerbangan.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Pesawat Garuda di Hangar GMF,  Tanggerang,  Banten (2/3). Jika holding sektor penerbangan terbentuk, Garuda Indonesia akan menjadi anak usaha Survai Udara Penas yang akan ditunjuk sebagai induk holding penerbangan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyatakan bahwa pemerintah tengah mengkaji pembentukan induk usaha alias holding BUMN sektor penerbangan. Ia telah melayangkan proposal tersebut kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tujuan dari pembentukan holding tersebut agar investasi di sektor ini dapat ditingkatkan. Rini mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan akses transportasi udara yang baik, sehingga membutuhkan investasi sangat besar untuk meningkatkan konektivitas antarpulau.

Dengan terbentuknya holding diharapkan membuat neraca keuangan perusahaan penerbangan milik pemerintah menjadi lebih besar. Dengan kapasitas yang mencukupi akan meningkatkan investasi di sektor ini tanpa harus bergantung dari dana pemerintah.

"Kita harus melakukan hal seperti ini," kata Rini ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (15/4). "Holding dibentuk tidak terlepas dengan neraca keuangan. Dengan neraca lebih besar, kita bisa melakukan investasi yang lebih banyak."

Advertisement

(Baca: Pemerintah akan Bentuk Superholding agar BUMN Profesional)

Menurut Rini, pembahasan pembentukan holding BUMN secara umum selalu melibatkan banyak pihak terkait seperti Kementerian Keuangan, serta Kementerian Hukum dan HAM. Kementerian BUMN juga mengajak kementerian lain seperti Kementerian Perhubungan jika terkait dengan holding penerbangan. Hal-hal seperti itu dinilai normal, tidak ada yang out of the ordinary.

Rini pun menampik kabar mengenai pihaknya yang meminta injeksi modal dalam bentuk Penambahan Modal Negara (PNM) untuk holding penerbangan. Tahun ini Kementerian BUMN hanya meminta PNM untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Hutama Karya (HK) saja. "Tidak ada permitaan tambahan dana dari BUMN ke pemerintah selain untuk dua itu. Jadi saya tidak tahu itu laporannya dari mana," kata Rini menegaskan.

Sebelumnya, PT Survai Udara Penas (Penas) disebut-sebut bakal menjadi induk dari holding penerbangan. Penas merupakan BUMN yang berdiri sejak 1961. (Baca: Siapkan Rp 500 M, AP II Kebut Pembangunan Bandara Jenderal Soedirman).

Beberapa perusahaan yang bakal tergabung dalam holding penerbangan ini yaitu PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, PT Garuda Indonesia Tbk., PT Pelita Air Services, dan Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait