Pos Indonesia Klaim Sudah Lunasi Pembayaran Gaji yang Terlambat

Gaji pegawai Pos Indonesia yang seharusnya dibayarkan setiap tanggal 1, terlambat. Meski sudah dibayarkan hari ini, SPPI masih menuntut penjelasan direksi.
Image title
4 Februari 2019, 21:14
pos indonesia
KATADATA
pos indonesia

PT Pos Indonesia (Persero) diterpa isu miring terkait penundaan gaji pegawainya untuk periode 1 Februari yang tidak dibayarkan tepat waktu. Namun, pihak Pos Indonesia memastikan pembayaran gaji karyawan sudah sudah dibayarkan 100% pada hari ini, Senin (4/2).

"Kalau jam segini (16.46 WIB) sepertinya sudah (dibayarkan) semua. Insya Allah sudah 100%," kata SVP Kerja Sama Strategis dan Hubungan Kelembagaan Pos Indonesia Pupung Purnama kepada Katadata.co.id, Senin (4/2).

Menurut Pupung, total gaji yang dibayarkan kepada kurang lebih 24 ribu pegawai Pos Indonesia secara nasional mencapai Rp 137 miliar. Ada pun, gaji pegawai Pos Indonesia biasanya dibayarkan setiap tanggal 1 per bulannya.

Meski begitu, Pupung tidak menyebutkan alasan terkait penundaan gaji pegawai tersebut. Dia hanya memastikan, penjelasan terkait penundaan ini sudah disampaikan kepada pegawai dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono.

Advertisement

"(Alasan penundaan gaji karyawan) sudah ada lengkap di rilis yang ditandatangani langsung oleh Direktur Utama. Kebetulan sifatnya (surat) rahasia internal, hanya untuk pegawai," katanya menjelaskan.

(Baca: Jalankan PSO, Laba Pos Indonesia Tahun 2018 Hanya Rp 130 Miliar)

Sementara, Ketua Umum Serikat Pekerja Pos Indonesia Kuat Bermartabat (SPPI) Akhmad Qomarudin membenarkan jika pembayaran gaji karyawan untuk periode Februari ini sudah dibayarkan. "Betul (sudah dibayarkan) dan yang masih jadi pertanyaan karyawan, apakah bulan depan dan seterusnya akan terjadi keterlambatan lagi?" katanya kepada Katadata.co.id, Senin (2/4).

Akhmad mengaku, hingga kini pihaknya masih belum mendapatkan informasi yang jelas dari manajemen terkait alasan penundaan pembayaran gaji pegawai ini. Dia masih mempertanyakan apakah karena arus kas (cash flow) perusahaan yang terganggu atau akibat demo SPPI pada 28 Januari lalu di Kantor Pusat Pos Indonesia, Bandung. "Sampai saat ini, audiensi kedua belah pihak belum ada titik temu," kata Akhmad.

Namun, Akhmad juga menambahkan, jika permasalah yang diusung oleh SPPI tidak hanya terkait keterlambatan gaji pegawai, mereka juga tidak puas terhadap tata kelola perusahaan oleh jajaran direksi saat ini selama 3 tahun terakhir. Menurutnya jajaran direksi saat ini membuat kinerja perusahaan menukik tajam.

Untuk itu, SPPI bersama karyawan Pos Indonesia berencana untuk menggelar aksi menyampaikan pendapat di muka umum pada Rabu (6/2). Berdasarkan undangan peliputan dan konferensi pers terkait acara tersebut, mereka berencana menggelar aksi dengan titik kumpul di Gedung Pos Ibukota Jakarta pada pukul 09.00 WIB.

(Baca: Pos Indonesia Dorong Anak Usahanya Masuk Pasar Modal pada 2020)

Mereka akan melanjutkan aksi orasi tersebut ke Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga pukul 15.00 WIB. Terakhir mereka akan melanjutkan orasi sekaligus audiensi di Istana Negara.

Sebelumnya diberitakan bahwa kinerja Pos Indonesia pada 2018 jauh di bawah target. Perolehan laba pada 2018 diperkirakan hanya sekitar Rp 130 miliar dari target yang ditetapkan pada awal tahun sebesar Rp 400 miliar. Perkiraan laba tersebut juga jauh di bawah capaian laba tahun 2017 yang sebesar Rp 355 miliar.

Direktur Keuangan dan Umum Pos Indonesia Eddi Santosa mengatakan, kecilnya perkiraan laba tahun buku 2018 karena Pos Indonesia melayani program Pos Universal yang merupakan penugasan dari pemerintah. "Persoalannya begini, Pos masih melayani Pos Universal, itu sebetulnya public service obligation (PSO)," kata Eddi di kantornya, Jakarta, Rabu (9/1).

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait