Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Meningkat Selama Pandemi

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan ada 643 kasus yang dilaporkan antara 2 Maret - 25 April 2020.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
29 April 2020, 13:03
pandemi corona, kekerasan anak, kekerasan perempuan,
ANTARA FOTO/Maulana Surya
Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat selama terjadinya pandemi corona di Tanah Air.

Pemerintah mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama pandemi corona berlangsung mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah aduan dalam rumah tangga yang dilaporkan.

Kepala Staf Presiden Moeldoko menyebutkan ada 59 kasus kekerasan, perkosaan, pelecehan seksual, serta pornografi daring selama 16 Maret-30 Maret 2020 jika merujuk kepada data LBH APIK.

"Di antara kasus tersebut 17 di antaranya adalah kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)," kata Moeldoko melalui video conference, Rabu (29/4).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga mencatat adanya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama pandemi corona berlangsung.

(Baca: Jokowi Ingin Ada Pelayanan Satu Pintu Tangani Kekerasan Anak)

Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati memaparkan, ada 643 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan melalui Sistem Informasi Online (Simfoni PPA) sejak 2 Maret-25 April 2020.

Secara rinci, 275 kasus kekerasan dialami perempuan dewasa dengan total korban 277 orang. Ada pula 368 kasus kekerasan yang dialami anak. "Dengan korban sebanyak 407 anak," kata Bintang.

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini menunjukkan bahwa masalah psikologis di tengah masyarakat penting untuk diperhatikan. Jika hal tersebut tak dilakukan, masyarakat dapat semakin rentan terkena virus corona.

Ini lantaran imunitas masyarakat dapat menurun saat psikologisnya tertekan. "Waspada diperlukan, tapi takut cemas hingga stres jangan sampai terjadi," kata Moeldoko.

(Video: Data Terbaru Kasus Corona di Indonesia per 28 April 2020)

Atas dasar itu, pemerintah merasa perlu memberikan layanan konseling dan edukasi kesehatan jiwa terhadap masyarakat. Karenanya, pemerintah meluncurkan Layanan Psikologi untuk Sehat Jiwa atau Sejiwa pada hari ini.

Moeldoko mengatakan, Sejiwa dapat diakses masyarakat melalui hotline 119 ekstensi 8. "Harapannya masyarakat bisa memiliki satu jiwa dan semangat yang sama untuk gotong royong melawan Covid-19, sehingga kolaborasi ini bisa menjadi penjembatan bagi terselesaikannya Covid-19," kata Moeldoko.

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait