Setelah Corona Berlalu, Ekspor Tiga Komoditas Diramal Naik Tahun Depan

Ekspor komoditas energi, pangan, dan obat-obatan diperkirakan melonjak pada 2021 karena pergeseran pola konsumsi masyarakat setelah pandemi corona usai.
Image title
4 Mei 2020, 16:06
ekspor, pandemi corona, ekspor pangan, energi,
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Sebuah truk menunggu muatan peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). Ekspor komoditas energi, pangan, dan kesehatan diperkirakan melonjak pada 2021 setelah pandemi corona berakhir.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan setidaknya ada tiga komoditas ekspor yang mengalami lonjakan permintaan pada 2021 setelah usainya pandemi corona atau Covid-19.

Peneliti Indef Bhima Yudhistira mengatakan tiga komoditas ekspor tersebut yaitu dari sektor energi yakni batubara, minyak bumi, dan crude palm oil (CPO); kemudian komoditas pangan, dan produk-produk kesehatan seperti jamu herbal serta obat-obatan kimia.

"Harapannya tahun 2021 ada pemulihan ketika banyak industri yang terkena pandemi atau lockdown mulai pulih lagi, jadi akan meningkatkan permintaan ketiga komoditas itu," kata Bhima kepada Katadata.co.id, Senin (4/5).

Menurut dia, setelah pandemi ini berakhir pola konsumsi masyarakat dunia diperkirakan akan berubah. Akan terjadi peningkatan konsumsi pangan dan produk kesehatan. Sedangkan konsumsi kebutuhan lain yang sifatnya bukan prioritas akan turun drastis.

Advertisement

(Baca: Pelonggaran Lockdown Dinilai Tak Berpengaruh Signifikan ke Ekspor RI)

Bhima mencontohkan, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan masih akan sulit, termasuk produk barang mewah (luxury goods). "Karena orang akan menunda itu dan lebih memilih bertahan untuk makan dan kesehatan. Jadi akan kembali pada kebutuhan dasar dalam beberapa tahun ke depan," ujar dia.

Hal ini terbukti pada dua bulan terakhir sejak pandemi corona menyerang Tanah Air, penjualan TPT anjlok hingga 50%. Sebab, pasar ekspor mulai dibatalkan sementara permintaan dalam negeri kian susut seiring dengan turunnya daya beli masyarakat.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonedia Rizal Tanzil mengatakan angka pasti penurunan penjualan sedang dihitung. Namun, beberapa anggota API mulai menutup pabrik hingga beberapa waktu ke depan sesuai dengan arahan pemerintah.

"Saya belum tahu angkanya, yang pasti sudah besar ini dampaknya karena pasar ekspor banyak yang dibatalkan dan pasar domestik daya beli turun urusan semuanya pada kesehatan. Mungkin lebih dari 50%," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (2/4).

(Baca: Ekspor Makanan Olahan Indonesia ke Tiongkok Meningkat saat Pandemi)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait