Jika Pandemi Usai, Pengusaha Bisa Tiru Cara Jerman Pulih dari Perang

Pasca-perang dunia II, ekonomi Jerman hancur lebih parah dibandingkan dari dampak pandemi corona saat ini.
Image title
15 Mei 2020, 17:32
pandemi corona, jerman, pengusaha
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pras.
Ilustrasi, pekerja berjalan di atas JPO Dukuh Atas, Jakarta, Senin (4/5/2020). Pengusaha disarankan mengubah sistem kerjanya mengikuti cara yang digunakan Jerman dalam membangkitkan ekonominya pasca-perang dunia II.

Guna membangkitkan kembali roda perekonomian pasca pandemi corona atau Covid-19, pengusaha disarankan untuk mengubah sistem kerja dengan buruh dari yang sebelumnya pemilik modal dan tenaga kerja menjadi mitra bisnis.

CEO PT Trans Javagas Pipeline and Chair, IGCN Supervisory Board Joseph Dharmabrata mengatakan bahwa Indonesia perlu mencontoh pola bisnis yang dilakukan Jerman untuk pulih pasca-Perang Dunia II. Ketika itu Jerman merombak sistem kerja industri secara besar-besaran.

"Kita harus melihat dari pengalaman Jerman sewaktu bangkit dari perang dunia II itu lebih parah dari apa yang dialami sekarang. Mengapa Jerman bangkit? Karena mereka mengubah sistem kerja samanya buruh itu tidak ada pengusaha dan buruh tapi mitra," kata dia dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (14/5).

(Baca: Pandemi Corona, 30 Juta Karyawan Properti Terancam PHK)

Advertisement

Joseph yakin cara ini dapat diterapkan di Indonesia karena besarnya potensi pasar dan akan membantu meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan produksi yang disebabkan dari wabah tersebut.

Menurut dia, dalam kondisi seperti ini pengusaha akan cenderung memangkas beban biaya besar-besaran, untuk menjaga arus keuangan yang tersisa di tengah produktivitas yang rendah.

Dengan banyaknya keterbatasan, skema kemitraan kerja dipercaya dapat meningkatkan kompetensi buruh yang berdampak pada peningkatan produktivitas berdasarkan perjanjian tertentu.

Tak hanya itu, pengusaha juga dapat bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menggerakan kembali roda perekonomian. Sebab, bisnis di sektor ini jumlahnya sangat banyak yang mampu menyerap pengangguran.

"UMKM lebih sesuai untuk melakukan kemitraan dengan buruhnya dibandingkan dengan perusahaan besar," kata Joseph.

(Baca: Pemprov Jakarta Tutup Sementara Hampir 200 Perusahaan Pelanggar PSBB)

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait