Berbagai Masalah pada Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung-Surabaya

Kendala proyek kereta cepat terkait mobilitas manusia dan pengadaan alat imbas pandemi corona, serta pembebasan tanah.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
15 Juni 2020, 21:09
proyek kereta cepat, kereta cepat jakarta bandung, kereta cepat jakarta surabaya, pandemi corona
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.
Kereta api melintas di samping proyek pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (27/5/2020). Berbagai masalah membelit proyek kereta cepat Jakarta-Bandung-Surabaya mulai dari pandemi hingga pembebasan lahan.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) memastikan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya masih terus berjalan. Meski begitu, proyek tersebut menghadapi sejumlah masalah dalam proses pengerjaannya saat ini imbas pandemi virus corona atau Covid-19.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Ridwan Djamaluddin mengatakan, kendala tersebut salah satunya terkait dengan mobilitas manusia. Kendala lainnya terkait dengan pengadaan alat untuk pengerjaan kedua proyek tersebut.

"Pembebasan lahan juga memang ada (kendala) sedikit, namun kita sudah melihat titik terang penyelesaiannya," kata Ridwan melalui konferensi video, Senin (15/6).

(Baca: Jokowi Minta Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dilanjutkan Sampai Surabaya)

Lebih lanjut, Ridwan menyebut preparatory survey atau survei persiapan yang dilakukan Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya masih terus berlangsung hingga saat ini.

Dia memperkirakan laporan awal dari survei tersebut dapat selesai bulan depan. "Pada Juli akan disampaikan laporan awal, interim report," kata Ridwan.

Adapun, Ridwan mengatakan pemerintah masih belum memastikan apakah kereta cepat Jakarta-Bandung akan diintegrasikan dengan kereta cepat Jakarta-Surabaya. Menurut dia pemerintah belum memutuskan apakah JICA akan menjadi mitra ketika kedua proyek tersebut disambung.

Meski demikian, dia tak mempermasalahkan jika ada mitra baru yang akan bergabung untuk pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung-Surabaya. "Realitasnya kalau ada mitra baru membawa manfaat, semua pihak setuju, tentunya tidak tertutup kemungkinan," kata dia.

(Baca: Belitan Masalah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya meminta proyek kereta cepat Jakarta-Bandung diintegrasikan hingga Surabaya agar proyek lebih ekonomis. Presiden juga mengusulkan agar konsorsium pelaksana proyek ditambahkan oleh pihak dari Jepang.

Saat ini, megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung dikerjakan oleh PT Kereta Cepat China-Indonesia. Perusahaan itu merupakan patungan dari konsorsium Indonesia, PT Pilar Sinergi BUMN dan konsorsium Tiongkok.

PT Pilar Energi Indonesia terdiri dari empat BUMN, yakni PT KAI (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PTPN VIII (Persero), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Sementara, konsosrium Tiongkok terdiri dari China Railway International Co Ltd, China Railway Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRRC Corporation Limited, dan China Railway Signal and Communication Corp.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, permintaan Jokowi tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh Menteri BUMN Erick Thohir. "Akan dikaji baik itu mengenai anggota konsorsium juga mengenai rute dan total proyek," kata Airlangga.

(Baca: Kereta Cepat Terimbas Corona, Pekerja Tertahan & Material Terganggu)

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Video Pilihan

Artikel Terkait