Corona Belum Juga Tertangani, Ekonom Khawatir Investor Enggan Masuk RI

Kewajiban protokol kesehatan dinilai memberatkan investor disamping masih ada kebijakan yang masih tumpang tindih atau berseberangan.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
1 Juli 2020, 15:17
investasi, pandemi corona
ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj.
Ilustrasi. Pandemi corona yang tak kunjung tertangani di Indonesia dapat memberatkan investor masuk karena adanya kewajiban penerapan protokol kesehatan yang menambah biaya pengusaha.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati khawatir investor baru enggan masuk Indonesia untuk menanamkan modalnya lantaran pandemi virus corona tak kunjung tertangani.

Hal ini lantaran adanya kewajiban protokol kesehatan yang meningkatkan biaya operasional sehingga mengurangi keuntungan. Enny menjelaskan, adanya protokol kesehatan juga akan memperlambat proses perizinan dan produksi. Pasalnya, jumlah karyawan yang bekerja hanya diizinkan separuh dari kapasitas ruangan.

"Khawatirnya kalau Covid-19 tidak segera diselesaikan dan harus segera memulai usaha akan menambah beban biaya, nah beban ini tentu punya dampak terhadap keuntungan dalam berinventasi jadi berkurang. Hal ini bisa menjadi kampanye negatif untuk calon investor yang akan masuk," kata Enny kepada Katadata.co.id, Rabu (1/7).

Dia menambahkan, untuk memaksimalkan potensi investasi pemerintah harus meningkatkan nilai tambah terhadap seluruh investasi yang masuk. Upaya ini dilakukan dengan cara merevisi kebijakan-kebijakan yang selama ini tumpang tindih atau berseberangan.

(Baca: Pengusaha Nilai Peluang RI Gaet Relokasi Investasi Tiongkok Kecil)

Salah satunya yakni kebijakan untuk membatasi produk-produk impor agar daya saing produk dalam negeri semakin meningkat. Upaya memperkuat industri hulu harus segera dilakukan agar potensi pasar dalam negeri dapat dimaksimalkan.

Tak hanya itu, Enny meminta pemerintah agar segera memberikan keringanan biaya energi baik listrik maupun gas bagi industri dan memberikan keringanan biaya logistik. Sebab, insentif ini sangat diperlukan untuk mempercepat subtitusi impor.

"Harus ada satu kebijakan yang saling mendukung jadi semacam insentif, kalau mereka mau investasi di industri komponen diberikan insentif. Namun, kalau ada komponen yang mau masuk ya kena tarif sehingga para investor industri hulu mau masuk di Indonesia," katanya.

Adapun rencana relokasi pabrik dari Tiongkok ke Indonesia telah resmi diumumkan Presiden Joko Widodo alias Jokowi pada Rabu (30/6). Presiden memastikan ada tujuh investor asing yang akan merelokasi pabriknya ke Indonesia. Sebagian besar investor tersebut berasal dari Tiongkok.

(Baca: Tujuh Investor Bakal Relokasi Pabrik ke RI, Mayoritas dari Tiongkok)

Ketujuh investor tersebut, yakni PT Meiloon Technology Indonesia, PT Sagami Indonesia, PT CDS Asia (Alpan), PT Kenda Rubber Indonesia. Kemudian, PT Denso Indonesia, PT Panasonic Manufacturing Indonesia, dan PT LG Electronics Indonesia. Adapun Meiloon merelokasi pabriknya dari Suzhou, Tiongkok.

Total investasi dari ketujuh pabrik tersebut diperkirakan mencapai US$ 820 juta. "Saya senang hari ini sudah ada yang masuk tujuh. Sudah pasti ini yang tujuh," kata Jokowi saat meninjau Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6).

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait