Siapkan Roadmap, Kemenperin Optimis Subtitusi Impor Capai 35% di 2022

Kemenperin telah memetakan sektor yang memiliki nilai impor besar. Sektor ini akan didorong untuk mempercepat substitusi impor.
Image title
28 Juli 2020, 20:23
substitusi impor 35%, kementerian perindustrian,
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta.

Pemerintah menargetkan subtitusi impor dapat mencapai 35% pada akhir 2022. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun menyusun sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut.

"Roadmap sedang disusun. Nanti output-nya subtitusi impor pada akhir 2022 sebesar 35%," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dalam sebuah webinar, Selasa (28/7).

Menurutnya, Kemenperin telah memilah sektor industri yang memilii nilai impor dalam jumlah besar. Sektor tersebut akan didorong untuk mempercepat subtitusi impor dengan didukung industri 4.0.

Pada 2019, ada sejumlah sektor yang memiliki nilai impor besar meliputi industri mesin dengan nilai impor Rp 308 triliun, industri kimia Rp 299 triliun, industri logam Rp 242 triliun, industri elektronika Rp 231 triliun, dan industri makanan Rp 140 triliun.

Kemudian, ada industri peralatan listrik Rp 116 triliun, industri tekstil Rp 103 triliun, industri kendaraan bermotor Rp 96 triliun, dan industri barang logam Rp 81 triliun. "Ini merepresesntasikan 88% impor industri pengolahan. Ini akan kami tackle," ujar dia.

Menurutnya, upaya subtitusi impor dapat mendorong pendalaman struktur industri tersebut. Selain itu, subtitusi impor akan memberikan dampak pada peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja baru.

Saat ini, para industri masih terkendala oleh dampak lanjutan dari covid-19. Kemenperin pun menargetkan utilitas produksi di seluruh sektor industri pengolahan dapat mencapai 60% pada 2020. Kemudian, utilitas produksi diharapkan naik menjadi 75% padda 2021 dan 85% pada 2022.

"Sekarang utilitas sudah berada pada titik 49,5%. Kami akan mendorong agar utilitas akhir tahun menacapai 60%," ujar Agus.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor membaik pada Juni 2020. Nilainya yang sebesar US$ 12,03 miliar meningkat sekitar 2,3% secara tahunan atau 15,1% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kemudian, total nilai impor pada bulan yang sama mencapai US$ 10,76 miliar. Jumlah ini naik 27,6% dibandingkan Mei 2020, tetapi lebih rendah 6,4% dari jumlah pada Juni 2019.

Jika melihat kinerja ekspor dan impor sepanjang semester I-2020, terjadi penurunan secara tahunan. Nilai ekspor merosot 5,5%, sementara nilai impor turun lebih dalam di 14,3%.

Reporter: Rizky Alika

Video Pilihan

Artikel Terkait