Impor Sepeda Melonjak Jadi Rp 577 Miliar, 95% Berasal dari Tiongkok

Impor sepeda sepanjang semester paruh pertama tahun ini melonjak hingga 24,8%.
Image title
Oleh Rizky Alika
2 September 2020, 19:02
impor sepeda, tren bersepeda, bps
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Sejumlah pesepeda melintas di Bunderan HI, Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2020).

Tren olahraga yang meningkat selama pandemi corona turut mendongkrak impor sepeda ke Tanah Air. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor sepeda selama semester I 2020 melonjak hingga 24,82% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mayoritas diimpor dari Tiongkok.

Secara rinci, nilai impor sepeda roda dua dan sepeda lainnya pada Januari-Juni 2020 mencapai US$ 39,02 juta atau sekitar Rp 577 miliar (kurs Rp 14.800 per dolar Amerika Serikat). Nilai impor tersebut naik US$ 7,76 juta dibandingkan semester I 2019 sebesar US$ 31,26 juta.

Berdasarkan bobotnya, total impor sepeda roda dua dan lainnya pada semester I 2020 mencapai 15,51 juta kilogram (kg), naik 20,7% dibandingkan tahun lalu periode yang sama sebanyak 12,85 juta kg.

Berdasarkan asal negara, impor terbesar pada semester I 2020 berasal dari Tiongkok dengan nilai US$ 37,26 juta dan berat 15,46 juta kg. Ini setara dengan 95% dari total nilai impor selama semester I 2020. Kemudian disusul Taiwan dengan nilai US$ 1,01 juta dan berat 21,62 ribu kg serta Inggris US$ 440,37 ribu dengan berat 440,37 ribu kg.

Posisi berikutnya ditempati Singapura dengan nilai impor US$ 147,68 ribu dan berat 15,76 ribu kg serta Amerika Serikat dengan nilai US$ 64,41 ribu dan berat 779 kg.

Secara bulanan, nilai impor sepeda sempat tinggi pada Januari lalu, yaitu US$ 11,9 juta. Namun, nilai impor tersebut menurun pada Februari dan Maret dengan nilai masing-masing US$ 3,49 juta dan US$ 1,98 juta.

Impor sepeda mulai menunjukkan geliat pada April atau satu bulan setelah kasus pertama Covid-19 ditemukan di Indonesia. Adapun peningkatan impor pada April mencapai 184,84% dibandingkan bulan sebelumnya.

Lonjakan nilai impor sepeda pun kembali terjadi pada Juni 2020. Data menunjukkan, nilai impor sepeda pada Juni sebesar US$ 10,92 juta atau melonjak 117,09% dari bulan sebelumnya.

Tak jauh berbeda, impor bagian dari sepeda juga meningkat selama pandemi. Pada semester I 2020, nilai impor bagian sepeda mencapai US$ 109,95 juta atau naik 35,6% dibandingkan Januari-Juni 2019 senilai US$ 81,03 juta. Berdasarkan beratnya, impor bagian sepeda pada semester I 2020 mencapai 23,84 juta kg naik 21,5% yoy.

Impor bagian sepeda juga didominasi produk asal Tiongkok dengan nilai US$ 66,53 juta atau memiliki proporsi 60,5%. Selanjutnya, impor bagian sepeda juga dilakukan dari Taiwan sebesar US$ 13,99 juta, Singapura US$ 8,8 juta, Jepang US$ 7,32 juta, dan Vietnam US$ 6,4 juta.

Secara bulanan, nilai impor bagian sepeda mengalami lonjakan pada April dan Juni dengan peningkatan masing-masing 52,36% dan 70,32% dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, tren bersepeda telah merebak di sebagian masyarakat perkotaan. Co-Founder Bike to Work Abby Kahuna sempat mengatakan, imbas pelonggaran PSBB membuat jumlah masyarakat yang bekerja menggunakan sepeda meningkat tiga hingga lima kali lipat dibandingkan sebelum pandemi.

Tak hanya itu, sebagai olahraga rekreasi bersepeda pun menjadi salah satu sarana hiburan menghilangkan bosan setelah berbulan-bulan mengurung diri di rumah. Melihat hal tersebut, pemerintah memperketat ketentuan impor sepeda roda dua dan roda tiga untuk memacu produksi lokal.

Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 68 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Dua dan Roda Tiga. Permendag ini ditetapkan pada 19 Agustus 2020 dan mulai berlaku 28 Agustus 2020.

Permendag tersebut mengatur impor sepeda roda dua dan roda tiga memerlukan Persetujuan Impor yang berlaku paling lama setahun. Selain itu, importasi hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan yang tercantum dalam Permendag tersebut.

Di dunia maya, kata sepeda menjadi salah satu kata kunci (keyword) pencarian yang paling populer menurut data Google Keyword Planner selama pandemi corona melanda. Berdasarkan temuan pada Maret 2020, keyword "Sepeda Lipat" didapatkan hanya 90.500 kali.

Peningkatan mulai terjadi pada April sebesar 82% menjadi 165.000 yang merupakan awal mula diterapkannya PSBB. Pada Mei pencarian di Google menggunakan keyword tersebu masih stabil dengan bulan sebelumnya. Peningkatan yang signifikan terjadi pada Juni 2020 hingga 644% dari Maret 2020 menjadi total 673.000 keyword.

Reporter: Rizky Alika

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait