Menhub Budi Apresiasi Jumlah Penumpang Libur Nataru yang Turun Drastis

Menhub Budi Karya Sumadi menilai penurunan jumlah penumpang dan perjalanan pada libur Nataru karena kesadaran masyarakat membatasi perjalanan untuk mencegah Covid-19.
Image title
5 Januari 2021, 14:11
libur natal dan tahun baru, nataru, jumlah penumpang, budi karya sumadi, kementerian perhubungan, menhub
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Sejumlah calon penumpang menunggu bus di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Rabu (23/12/2020).

Jumlah penumpang yang melakukan perjalanan pada libur Natal 2020 dan tahun baru 2021 (Nataru) turun signifikan di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menilai hal tersebut karena kesadaran masyarakat untuk membatasi perjalanan di masa pandemi.

"Turunnya jumlah penumpang pada libur Nataru kali ini bukan suatu penurunan prestasi. Namun hal tersebut patut diapresiasi karena masyarakat mengerti untuk membatasi perjalanan dan menerapkan protokol kesehatan guna meminimalisir penyebaran Covid-19," ujarnya pada penutupan posko Nataru 2020, Selasa (5/1).

Penurunan jumlah penumpang pun diikuti karena adanya sosialisasi juga kerja sama pemerintah dan pihak lain. Terlebih, pemerintah tak henti menggencarkan kampanye untuk merayakan libur Nataru di rumah.

Menhub menjelaskan bahwa penurunan terjadi pada seluruh moda transportasi, dengan penurunan jumlah penumpang terbesar terjadi pada moda transportasi kereta api yang turun hingga 83% dari 3,4 juta penumpang menjadi hanya 565 ribu penumpang. 

Advertisement

Kemudian pada sektor transportasi darat, lanjutnya, jumlah penumpang turun hinggga 58%, dari 13 juta penumpang pada libur Nataru tahun lalu menjadi hanya 5,6 juta penumpang. Kemudian angkutan penyeberangan turun 47% dari 3 juta menjadi 1,5 juta penumpang.

Adapun penumpang transportasi udara turun 42% menjadi 2 juta penumpang, dari sebelumnya 3,6 juta. Sedangkan penumpang transportasi laut turun hingga 62% menjadi hanya 500 juta dari sebelumnya 1,3 juta penumpang.

Kendati jumlah penumpang telah melandai, Budi menilai ada beberapa hal yang harus disempurnakan. Karena itu, evaluasi terus dilakukan agar ke depan masyarakat terus disiplin dan menjalankan protokol kesehatan.

ARUS BALIK LIBUR NATARU DI TOL LAMPUNG
ARUS BALIK LIBUR NATARU DI TOL LAMPUNG (ANTARA FOTO/Ardiansyah/rwa.)

 

“Apa yang sudah kita lakukan, harus dievaluasi dengan baik. Maka dari itu kami terus berkoordinasi dengan BUMN, sektor perhubungan dari sektor transportasi, sektor energi, kepolisian, Basarnas, BMKG, Jasa Raharja juga organisasi terkait,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa posko Nataru memonitoring pergerakan transportasi dan arus penumpang sejak 18 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021. Kemenhub melakukan monitoring terhadap 48 terminal, 2 pelabuhan laut, serta 50 daerah operasi (DAOP) kereta api.

Budi mengaku, pengawasan pada libur Nataru kali ini berjalan dengan lancar berkat koordinasi yang baik antara posko-posko daerah, tingkat nasional hingga di tingkat kabupaten. Karena koordinasi itu pula, dia mengaku seluruh pihak dapat memberi pelayananan yang maksimal kepada masyarakat.

“Namun, saya katakan sekali lagi. Hal-hal yang sudah kita lakukan ini hendaknya di evaluasi agar tetap bisa melakukan kegiatan-kegiatan. Karena kita ketahui bersama, tahun 2021 tantangan pandemi Covid-19 belum berakhir,” ujar Budi.

Mobilitas Masyarakat Belum Kembali Normal

Mobilitas masyarakat Indonesia pada libur Nataru memang belum kembali normal seiring dengan pandemi yang belum dapat dikendalikan. Hal tersebut terlihat pada databoks berikut.

Menurut data Google Mobility Index,  mobilitas masyarakat di pengujung tahun 2020 di tempat retail dan rekreasi -14,6%. Angka tersebut menyerupai kondisi Maret silam di titik -12,8%. Sementara itu, pergerakan di taman pada Desember (-7,8%) bahkan lebih tinggi dibandingkan Maret (-15,2%) lalu.

Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melakukan pengetatan aktivitas masyarakat selama libur Nataru. Pengetatan itu seperti melarang perayaan tahun baru di seluruh provinsi, pembatasan operasional bagi mall maupun restoran, serta melaksanakan work from home (WFH).

Tak hanya itu, pemerintah pun melakukan pengetatan protokol kesehatan di sejumlah rest area dan tempat wisata, serta memberlakukan tes rapid antigen untuk penumpang pesawat dan kereta api jarak jauh.

“Kami bukan menerapkan PSBB, hanya saja mengetatkan agar kasus aktif dan kematian akibat Covid-19 dapat terkendali,” kata Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan dalam siaran resmi, Selasa (15/12).

Hal senada juga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Di mana, DKI Jakarta memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi dari 4 – 17 Januari 2021. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 1295/2020.

Perpanjangan ini dilakukan karena DKI Jakarta masih mencatat kasus aktif Covid-19 tertinggi. Karena itu Pemprov DKI fokus untuk menekan penambahan kasus, khususnya pada libur nataru.

“Kenaikan presentase kasus aktif patut diwaspadai, terlebih pasca libur nataru. Karena, libur panjang ini berpotensi terjadi penambahan kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta Widyastuti dalam keterangan pers, Ahad (3/1).

Reporter: Annisa Rizky Fadila
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait