RI Berpeluang Dongkrak Ekspor Kopi, Teh, Kakao ke Inggris Pasca-Brexit

Konsumsi kopi, teh, dan kakao di Inggris cenderung meningkat selama pandemi Covid-19.
Image title
18 Februari 2021, 20:40
ekspor kopi, ekspor teh, ekspor kakao, inggris, brexit
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Barista meracik kopi di kedai UMKM kopi Rujukan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/1/2021).

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong para pelaku usaha kopi, teh, dan kakao di Indonesia untuk memaksimalkan pasar Inggris pasca-Brexit, atau keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan menyebutkan bahwa tiga komoditas perkebunan tersebut dicari oleh pembeli di pasar Inggris karena konsumsinya yang cenderung meningkat selama pandemi corona.

Apalagi kini Inggris mulai melonggarkan penguncian wilayah atau lockdown secara bertahap seiring dengan tingkat penambahan kasus baru yang turun ke level terendahnya sejak musim gugur 2020, di tiga negara Britania Raya.

“Dengan pelonggaran-pelonggaran lockdown dan pemulihan ekonomi, Indonesia perlu menangkap peluang pemulihan ekonomi dan memaksimalkan pasar Inggris,” kata Kasan dalam sebuah webinar bertajuk ‘Strategi Peningkatan Perdagangan Produk Kopi, Teh, dan Kakao ke Pasar Inggris’, Kamis (18/2).

Kasan menyampaikan bahwa peluang pelonggaran lockdown di Britania Raya akan mendorong pemulihan ekonomi di sana. Indonesia pun tidak terkena dampak dari Brexit yang hanya dirasakan Inggris dan negara Uni Eropa, sehingga eksportir tidak menghadapi kendala tarif.

Meski demikian ada beberapa persoalan yang harus diperhatikan pengusaha Indonesia dari sisi non tarif, yakni mulai dari masalah lingkungan hingga hal-hal lainnya yang diinginkan pembeli di Inggris.

“Pelaku usaha harus bisa menyampaikan cerita atau filosofi dari produknya. Ini akan menjadi nilai tambah dan menjadi keharusan agar produk kita bisa dapat akses yang cukup baik sehingga penjualannya meningkat,” kata dia.

Indonesia merupakan negara yang masuk dalam empat besar penghasil kopi dunia. Meski demikian ekspor kopi Indonesia masih kalah dari Vietnam. “Kita masih banyak kesempatan, karena dari data yang ada, kita masih kalah dengan Vietnam sebagai pemasok kopi ke Inggris,” katanya.

Senada, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag, Olvy Andrianita, mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor ketiga komoditas tersebut ke Inggris, meski kinerja ekspornya saat ini masih kecil.

“Pasar Inggris tidak pernah pudar. Kami juga mengantisipasi karena Indonesia juga tumbuh produk-produk baru ada white tea, black tea dan lainnya. Saya yakin ini banyak peminatnya di Eropa," tuturnya.

Menurut data Kemendag, Indonesia merupakan pemasok kopi terbesar ke-11 ke Inggris dengan nilai ekspor US$ 25,86 juta pada 2020 dengan pangsa pasar 2,45%. Sementara Vietnam menguasai pangsa pasar 10,9%. Selain Vietnam negara pesaing Indonesia lainnya yaitu Perancis (14,9%), Jerman (12,8%), Brazil (11,7%), dan Italia (6%).

Sedangkan untuk produk teh, Indonesia pemasok terbesar ke-20 ke Inggris dengan nilai ekspor US$ 1,88 juta dengan pangsa pasar 0,53%. Kenya menjadi negara pesaing utama dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 42,4% dan India sebesar 14%.

Kemudian, untuk produk kakao, Indonesia merupakan pemasok terbesar keenam dengan nilai ekspor US$ 10,7 juta (1,56%), dengan penguasa pasar saat ini yaitu Pantai Gading (38,5%) dan Belanda (24,4%).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait