Indonesia Berpeluang Jadi Eksportir Terbesar Alumina pada 2024

Ekspor alumina ditargetkan bakal melonjak kalau pabrik alumina di Bintan mulai berproduksi. Pabrik itu dibangun dengan nilai investasi US$ 6 miliar.
Image title
25 Februari 2021, 18:58
ekspor alumina, menteri perdagangan, muhammad lutfi, ekspor
ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/mes/wsj.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis RI bisa menjadi pengekspor alumina besar di dunia pada 2024.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis Indonesia akan menjadi salah satu negara pengekspor produk alumina dan aluminium ingot (batangan) terbesar di dunia pada 2024-2025. Status itu bakal tercapai setelah pabrik milik PT Bintan Alumina Indonesia di Bintan, Kepulauan Riau, mulai berproduksi.

"Investasinya US$ 6 miliar. Ekspor kita bidang alumina dan aluminium ingot ini akan tumbuh sangat besar antara 2024-2025 ketika pabriknya jadi. Ini akan terjadi," kata Mendag saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis (25/2).

Ia menyebut, hal tersebut merupakan salah satu keberhasilan diversifikasi ekspor yang dilakukan Indonesia, di mana 10 tahun lalu masih menjadi negara pengekspor barang mentah dan barang setengah jadi.

Diversifikasi ekspor, menurut Mendag, membutuhkan investasi dan industrialisasi. Setelah investasi masuk, maka membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum Indonesia bisa menikmati adanya produk baru non-migas yang potensial untuk diekspor.

"Seperti yang saya utarakan, bahwa kita memang di 10 tahun lalu masih mengekspor barang setengah jadi dan mentah. Kalau sekarang sudah bergeser, kita sudah menjual besi baja, kita sudah menjual otomotif, yang ini adalah basis daripada investasi ini juga. Diversifikasi itu akan berjalan ketika ada investasi dan basis industrialisasi," ujarnya.

Lutfi meyakini Indonesia akan sukses melakukan diversifikasi ekspor pada waktu mendatang. Hal tersebut dapat terlihat dari investasi yang masuk untuk memproduksi komoditas yang belum ada di dalam negeri dan potensial untuk ekspor.

Misalnya, industri nikel yang ada di Morowali, saat ini menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar kedua pengekspor stainless steel ke berbagai negara di dunia.

"Ini adalah bagian dari diversifikasi ekspor tersebut. Setidaknya, ada 14 titik industri baru, sebagian besar di luar Pulau Jawa yang punya investasi 5 miliar dolar dan ini dalam tidak terlalu lama, mereka akan menjadikan barang-barang nonmigas yang akan kita ekspor ke luar negeri," kata Mendag.

Adapun Kemendag telah menargetkan kinerja ekspor nonmigas tahun ini bisa tumbuh 6,3% dibandingkan realisasi 2020 sebesar US$ 155 miliar. Ini artinya, ekspor nonmigas diperkirakan mencapai US$ 164,76 miliar.

Peningkatan ekspor terjadi seiring dengan penerapan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Dengan demikian, investasi akan meningkat sehingga terjadi industrialisasi yang kan memperbaiki struktur ekspor Indonesia.

Kemendag akan mendorong ekspor sejumlah komoditas. Logam dan produk logam akan ditingkatkan ekspornya ke negara potensial seperti Turki, Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Filipina.

Kemudian ekspor batu bara akan ditingkatkan ke Bangladesh dan Brunei Darussalam. Kemudian, CPO dan turunannya ke Vitenam, Italia, India, dan Spanyol. Sedangkan ekspor otomotif bakal didorong ke Tiongkok, Brasil, dan Myanmar. Ada pula ekspor elektronik yang akan digenjot ke negara Amerika Serikat, Australia, dan Tiongkok.

Tiongkok memang menjadi pasar ekspor nonnmigas terbesar Indonesia. Pada Januari 2021 nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai US$ 3,05 miliar. Selain Tiongkok, pasar terbesar lainnya yaitu Amerika Serikat senilai US$ 1,68 miliar, Jepang US$ 1,25 miliar, India US$ 900 juta, dan Malaysia US$ 750 juta.

Simak databoks berikut ini:

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait