Swasembada Daging Sapi Menjadi Mimpi dengan Masih Tingginya Impor

Indonesia sudah impor daging sapi sejak 1917 dan berlangsung hingga saat ini.
Image title
Oleh Cahya Puteri Abdi Rabbi
30 Maret 2021, 10:52
swasembada daging sapi, daging sapi, impor daging sapi
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.
Pedagang daging sapi menunggu calon pembeli di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (13/2/2021).

Pemerintah memiliki target untuk mencapai swasembada daging sapi pada 2026. Meski demikian target tersebut masih sebatas mimpi lantaran tingginya impor untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan pokok seperti daging sapi masih sangat tinggi.

Menurut anggota komisi IV DPR RI, Luluk Nur Hamidah mengatakan bahwa Indonesia nyaris tidak bisa disebut mandiri atau berdaulat secara pangan karena masih bergantung kepada impor pangan.

“Bukan hanya daging, beras juga. Presiden (Joko Widodo) sudah bicara kalau sampai Juni tidak akan ada impor, tapi persoalannya adalah apakah kita bisa berhenti impor. Berhenti berbeda dengan menunda," kata Luluk dalam diskusi virtual “Mahalnya Harga Sapi dan Kerbau, Apa Solusinya?”, Senin (29/3).

Dalam 15 tahun terakhir usaha untuk swasembada pangan khususnya daging sapi masih gagal. Bahkan Indonesia sudah impor sapi sejak 1917. Ini berarti Indonesia sudah sejak lama belum bisa mandiri soal pangan.

“Tapi ini bukan berarti jadi alasan kita untuk tidak swasembada. Harus ada komitmen yang disepakati, kalaupun tidak swasembada, setidaknya kita bisa mengurangi 50% impor. Dengan begitu kita punya rencana terkait swasembada untuk kemudian diikuti dengan kebijakan yang konsisten,” katanya.

Luluk memaparkan alasan yang menjadi persoalan para peternak lokal atau ketersediaan daging sehingga pemerintah harus selalu mengambil jalan pintas dengan importisasi.

Pertama, tata kelola perdagangan yang belum bisa mendorong usaha peternak lokal untuk bisa menjadikan ternak sapi yang mereka miliki menjadi usaha dengan skala besar.

Para perternak lokal masih berpikir bahwa sapi yang dimiliki adalah harta satu-satunya yang akan diwariskan kepada anak cucu mereka. “Mereka belum bisa menilai bahwa ternak ini adalah bisnis yang bagus apalagi dengan tingkat konsumsi yang selalu meningkat,” ujarnya.

Kedua, berkurangnya ketersediaan lahan-lahan kosong turut menjadi hambatan untuk mengembangkan produksi sapi lokal. “Jadi pakan untuk ternak yang dulu melimpah sekarang sudah tidak ditemukan, ladang hijau sudah banyak dibuat perumahan, yang seharusnya bisa menjadi sumber pakan bagi ternak-ternak kita,” kata dia.

Ia menilai peternak dan peternakan lokal dapat mengambil manfaat paling besar dari kebijakan pemerintah terkait dengan pasokan daging. Dirinya menegaskan bahwa impor seharusnya menjadi pilihan terakhir kalau peternak lokal sudah benar-benar tidak mampu lagi memproduksi.

“Tapi itu juga bukan alasan, karena kalau tidak didorong dengan kebijakan yang kuat, sampai kapanpun  ketahanan dari peternak lokal tidak akan mampu bersaing dan bertahan ditengah situasi perdagangan internasional yang sedemikian rupa,” katanya.

Ketiga, terkait teknologi pembibitan. Kondisi peternak lokal masih jauh daripada peternak-perternak sapi di Australia, rata-rata daging yang dihasilkan dari sapi lokal tidak sebanyak sapi-sapi jumbo asal Australia. Bibit-bibit unggul seperti itu hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu karena harga yang mahal.

Keempat, terkait dengan pemasaran. Luluk mengatakan sapi-sapi lokal tidak akan bisa berjaya kalau infrastruktur yang terkait dengan jalur logistik sangat sulit dan eksklusif.

“Misalnya ternyata biaya yang dikeluarkan untuk membawa sapi dari NTT ke Jakarta lebih mahal daripada membawa sapi dari Australia ke Jakarta, ini akan membuat sapi-sapi disana tidak bisa kompetitif,” kata Luluk.

Dosen peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Afton Atabany menjelaskan untuk mencapai swasembada di 2026, populasi sapi lokal harus berjumlah 37 juta ekor, dua kali lipat dari jumlah saat ini sekitar 18,5 juta ekor.

Untuk memenuhi kekurangan jumlah induk, setiap tahun dibutuhkan impor sapi induk sebanyak 1 juta ekor, dan dalam pemeliharaannya, angka kelahiran harus 70% sedangkan angka kematian maksimal 30%.

“Jadi kita harus memikirkan bagaimana mengajak masyarakat untuk mau beternak. Karena menambah peternak itu sulit, menguranginya yang gampang,” kata Afton dalam kesempatan yang sama.

Afton mengatakan breeding is leading. Breeding merupakan bahan baku industri sapi potong dan industri daging. Ia menambahkan, Negara akan selalu bergantung dengan pasokan sapi dan daging impor kalau tidak melakukan persiapan pembiakan sapi potong.

“Kekuatan breeding ini tidak hanya akan memperkokoh industri peternakan tetapi juga memperkuat sektor lainnya,” katanya.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Video Pilihan

Artikel Terkait