Kolombia Siapkan Peta Jalan Pengembangan Bahan Bakar Hidrogen

Image title
30 Juni 2021, 19:01
hidrogen, bahan bakar, kolombia,
123rf.com/Alexander Kirch
Ilustrasi energi hidrogen.

Kolombia berencana untuk mengembangkan produksi hidrogen sebagai sumber energi bersih jangka panjang. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi Kolombia Diego Mesa.

Mesa mengatakan bahwa negaranya akan meluncurkan peta jalan selama 30 tahun ke depan untuk menetapkan produksi, penggunaan, dan ekspor hidrogen sebagai sumber energi bersih. Terutama untuk sektor transportasi dan industri.

"Rencana ini akan mendatangkan investasi yang cukup besar bagi Kolombia. Kami akan menawarkan insentif, termasuk pengurangan pajak, untuk mendorong partisipasi sektor swasta," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (30/6).

Meski begitu Mesa tidak memerinci secara spesifik besaran investasi yang akan masuk untuk pengembangan sumber energi bersih ini. Kolombia merupakan negara dengan kuantitas sumber daya air untuk energi terbarukan terbesar keenam di dunia. Ini menempatkan Kolombia pada posisi ideal untuk memproduksi hidrogen hijau.

Kolombia bahkan bisa menghasilkan hidrogen biru, yakni dengan memecah bagian-bagian komponen gas alam. "Kolombia memiliki semua sumber daya untuk menjadi pemimpin regional dan dunia untuk produksi hidrogen," kata Mesa.

Dia pun berharap investasi di sektor hidrogen akan mulai menggeliat tahun ini. Sehingga proyek percontohan untuk memproduksi dan menggunakan hidrogen dapat segera dimulai pada 2022.

Meski demikian sektor energi fosil seperti migas, batu bara masih penting bagi pendapatan negara Amerika Selatan ini. Meskipun permintaan di sektor tersebut saat ini masih terpukul oleh pandemi Covid-19.

Perkembangan Hidrogen di Indonesia

Sementara di Indonesia, pemerintah juga tengah mengkaji pengembangan produksi hidrogen hijau. Sumber listriknya akan berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyebut Jerman telah berhasil memanfaatkan hidrogen hijau untuk keperluan bahan bakar kereta listrik.

Hidrogen dari Negeri Panser berasal dari pembangkit listrik tenaga angin (PLTB). Saat beban listrik tidak tinggi, maka pembangkit itu dapat memproduksi hidrogen hijau.

“Jadi, saat listrik tidak masuk ke grid (jaringan listrik), pembangkitnya untuk produksi hidrogen,” ujar Dadan dalam wawancara khusus dengan Katadata.co.id, Jumat (25/6). “Nah, ini keekonomiannya masuk sebagai penggerak bahan bakar kereta.”

Pemerintah sedang mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan seperti itu. Salah satunya dengan sumber energi panas bumi dan tenaga surya (pembangkit listrik tenaga surya/PLTS). Negara ini memiliki sumber daya yang cukup besar untuk kedua energi tersebut.

“Kita dapat pakai panas bumi. Saat subuh, listrik tidak terlalu terpakai, dapat dipakai untuk produksi hidrogen,” ujarnya. "Pemerintah juga akan mengandalkan potensi dari sumber energi PLTS untuk proses produksi hidrogen hijau. Nusa Tenggara Timur memiliki potensi matahari yang besar."

Di provinsi tersebut nantinya akan dibangun PLTS skala besar. Produksi listriknya akan dikirim melalui kabel untuk menghasilkan hidrogen hijau.

Meski demikian pemanfaatan hidrogen di sisi hilir masih terkendala. Untuk bahan bakar mobil, misalnya, membutuhkan teknologi konversi hidrogen menjadi listrik. “Pengembangan energi terbarukan membutuhkan waktu panjang. Untuk melihat hidrogen di jalan raya, kita perlu mengubah teknologi kendaraannya,” kata Dadan.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait