10 Produsen Batu Bara yang Menikmati Bangkitnya Harga di Semester I

Kementerian ESDM merilis daftar 10 produsen batu bara terbesar di Indonesia pada semester I 2021. Perusahaan-perusahaan ini menikmati kebangkitan harga batu bara.
Image title
5 Juli 2021, 15:30
batu bara, harga batu bara, produsen batu bara
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di Muarojambi, Jambi, Selasa (21/4/2020).

Harga batu bara terus merangkak naik setelah sempat terpuruk sepanjang 2020 imbas pandemi Covid-19 yang membuat permintaan energi turun. Melansir dari Barchart.com, harga batu bara di pasar ICE NewCastle untuk kontrak Juli 2021 telah mencapai US$ 139,25 per metrik ton.

Sebelumnya harga batu bara sempat menyentuh US$ 44 per metrik ton. Sama halnya dengan harga batu bara acuan Indonesia yang terus bangkit menembus US$ 100,33 pada Juni 2021 setelah sempat terpuruk ke US$ 49,42 pada September 2020.

Bangkitnya harga emas hitam menguntungkan produsen komoditas ini di dalam negeri. Kementerian ESDM mencatat 10 produsen batu bara terbesar yang berkontribusi terhadap capaian realisasi produksi hingga semester I 2021.

"Ada 10 produsen batu bara terbesar, untuk sampai semester I 2021," Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Sujatmiko kepada Katadata.co.id, Senin (5/7).

Advertisement

Adapun kesepuluh perusahaan tersebut di antaranya yakni Kaltim Prima Coal, Adaro Indonesia, Kideco Jaya Agung, Borneo Indobara, Berau Coal, Bukit Asam (PTBA), Bara Tabang, Arutmin Indonesia, Multi Harapan Jaya, dan Indexim Coalindo.

Meski demikian, Sujatmiko tak dapat membeberkan secara rinci mengenai realisasi produksi dari masing-masing perusahaan tersebut. "Saya infokan daftar namanya saja ya," ujarnya.

Sebelumnya, Sujatmiko menyampaikan bahwa realisasi produksi batu bara nasional hingga 24 Juni 2021 telah mencapai 271 juta ton atau 43% dari total target produksi tahun ini. Sementara realisasi pemanfaatan batu bara untuk kepentingan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) hingga Mei mencapai 52 juta ton.

Menurut dia masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi perusahaan tambang terkait produksi. Salah satunya curah hujan yang masih cukup tinggi di daerah operasional tambang.

"Kondisi operasional tambang dan pengangkutan batubara di beberapa lokasi masih diliputi adanya curah hujan yang masih tinggi," kata dia kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, dia optimistis target produksi mencapai 625 juta ton tahun ini dapat terpenuhi. Operasional tambang dan pengangkutan batu bara pada beberapa bulan mendatang akan lancar dengan cuaca yang diperkirakan lebih kering.

Simak databoks berikut:

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait