Komitmen Tambang Berkelanjutan Vale Tekan Emisi Karbon 30% di 2030

Vale berkomitmen menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan dan menurunkan emisi karbon sebesar 30% pada 2030.
Image title
8 September 2021, 15:34
emisi karbon, vale, inco
Arief Kamaludin|KATADATA
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berkomitmen menurunkan emisi karbon yang dihasilkannya sebesar 30% pada 2030 untuk menjadi perusahaan netral karbon pada 2050.

PT Vale Indonesia Tbk menyatakan komitmennya untuk menekan 30% emisi karbon pada 2030. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan pertambangan ini untuk menjadi perusahaan yang netral karbon pada 2050.

Wakil Presiden Direktur Vale Adriansyah Chaniago mengatakan perusahaan akan terus berkomitmen untuk menerapkan good mining practice alias praktik penambangan berkelanjutan. Salah satunya dengan menjaga kualitas air.

"Dengan kualitas air yang baik akan berdampak positif bagi lingkungan. Vale berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 30% di 2030 dan menjadi carbon neutral pada 2050," kata dia dalam Public Expose Live 2021 secara virtual, Rabu (8/9).

Di awal tahun lalu perusahaan berkode emiten INCO ini meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Proper Hijau merupakan program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. "Kami bangga karena menjadi perusahaan tambang pertama yang menerima ini," ujarnya.

Advertisement

Sementara, dari segi produksi, sepanjang semester I tahun ini Vale mencatatkan penurunan volume. Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto mengatakan penurunan volume produksi terjadi lantaran adanya pemeliharaan di pabrik pengolahan atau smelter.

Adapun sepanjang enam bulan pertama tahun ini Vale memproduksi 30.246 metrik ton nikel matte. Capaian tersebut lebih rendah jika dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 36.600 metrik ton nikel matte.

Menurut dia produksi nikel masih akan terganggu setidaknya hingga 2022 seiring dengan adanya pemeliharaan pabrik pengolahan. "Setelah itu kami berharap bisa normal kembali dengan kapasitas power terpasang dan itu diharapkan bisa membawa produksi kami ke level normal," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa dengan naiknya harga batu bara dan minyak mentah dunia turut berimbas bagi operasional perusahaan. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah melakukan kontrol secara ketat untuk melakukan efisiensi untuk kebutuhan energi.

"(Sebesar) 94% dari kebutuhan energi dipasok dari PLTA, 6% dari minyak dan batu bara. Walaupun porsinya hanya 6% secara biaya cukup signifikan," katanya.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait