Hitachi Luncurkan Mobil Listrik Otonom di 2025, Lawan Autopilot Tesla

Hitachi Astemo bakal meluncurkan mobil listrik sekaligus otonom atau mengemudi mandiri pertamanya pada 2025 dengan target penjualan Rp 260 triliun pada 2026.
Image title
20 September 2021, 17:24
mobil listrik, kendaraan listrik, jepang,
ANTARA FOTO/REUTERS/Antonio Bronic
Ilustrasi mobil listrik.

Perusahaan manufaktur terkemuka asal Jepang, Hitachi, Ltd., berambisi untuk menjadi produsen kendaraan listrik dan otonom global. Mereka menargetkan untuk meluncurkan mobil listrik otonom yang dapat mengemudi secara mandiri pertamanya pada 2025.

Saat ini dunia mengenal Tesla sebagai produsen mobil listrik yang memiliki sistem mengemudi mandiri yang bernama Autopilot. Meski fitur ini belum sempurna karena banyak kecelakaan mobil yang diakibatkan malfungsi Autopilot.

Untuk merealisasikan ambisinya tersebut, sayap bisnis Hitachi di bidang otomotif, Hitachi Automotive System, pada Januari 2021 resmi bergabung dengan tiga anak perusahaan produsen otomotif terkemuka senegaranya, Honda Motor Co., yakni Keihin Corp., Showa Corp., dan Nissin Kogyo Co.

Hasil merger tersebut melahirkan perusahaan baru yakni Hitachi Astemo Ltd., dengan komposisi pemegang saham Hitachi 66,6% dan Honda 33,4%. Astemo sendiri merupakan singkatan dari Advanced Sustainable Technologies for Mobility yang mendefinisikan core business perusahaan.

Hitachi Astemo akan memaksimalkan keunggulan Hitachi, Keihin, Showa, dan Nissin untuk melahirkan mobil listrik otonom. Hitachi Automotive System merupakan pemain global sistem penggerak mobil (mesin dan komponen penggerak kendaraan lainnya), sasis, dan driving assistance system.

Sedangkan Keihin memiliki spesialisasi pada pada komponen drivetrain (rantai penggerak), Showa pada sistem kemudi (steering) dan suspensi, serta Nissin Kogyo pada sistem pengereman.

Presiden dan Chief Executive Officer (CEO) Hitachi Astemo, Brice Koch, mengatakan bahwa perusahaan berambisi untuk menjadi pemimpin global pada teknologi CASE (connected, autonomous, shared, and electric).

“Kami akan membelanjakan sekitar ¥ 300 miliar (sekitar Rp 39 triliun) dalam lima tahun ke depan untuk mengembangkan mobil listrik, beberapa tahun sebelumnya kami sudah menginvestasikan sekitar ¥ 120 miliar (Rp 15,6 triliun),” ujarnya pada pemaparan strategi bisnis Hitachi Astemo, awal tahun ini (20/1).

Dia menambahkan fokus investasi perusahaan ke depan selain mengembangkan mobil listrik yaitu untuk pengembangan autonomus driving/advanced driving support system (AD/ADAS) atau sistem mengendara otonom.

Kemudian pengembangan sistem sasis yang canggih. Koch mengatakan bahwa Hitachi Astemo merupakan segelintir perusahaan yang menguasai keahlian penting, melalui empat perusahaan yang bergabung, dalam membuat sistem sasis yang canggih yakni suspensi, pengereman, dan kemudi.

“Bersama dengan sistem AD/ADAS kami bisa membuat mobil mengoptimalkan laju dan kemudi kendaraan lebih baik sehingga meningkatkan keamanan berkendara,” kata Koch.

Hitachi sebenarnya telah meluncurkan peta jalan pengembangan mobil listrik dan otonom pada 2018 silam. Dalam peta jalan tersebut, Hitachi akan mengembangkan mobil otonom berdasarkan kesiapan teknologi pendukungnya.

Menurut National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) Amerika Serikat (AS), mobil berteknologi otonom dapat didefinisikan dalam level 0-5. Level 0 menunjukkan mobil tersebut 100% dikendalikan pengemudinya/manusia, tanpa dukungan berkendara.

Level 1-2 mobil sudah didukung teknologi bantuan mengendara seperti autonomous emergency braking (AEB), adaptive cruise control (ACC), dan lane keeping assist systems (LKS). Pada level 0-1 pengemudi dituntut untuk selalu fokus dalam berkendara untuk menghindari kecelakaan.

Kemudian pada level 3 mobil dapat berjalan secara otonom pada level tertentu di mana pengemudi harus kembali mengendalikan kendaraannya berdasarkan permintaan dan pemberitahuan sistem. Dari level 4, kendaraan dapat mengemudi secara mandiri tanpa pengemudi harus mengambil alih.

Adapun teknologi untuk kendaraan dapat mengemudi secara otonom di jalan raya bebas hambatan sudah tersedia sejak 2020, sedangkan untuk jalan raya biasa diperkirakan tersedia pada 2025.

Dalam peta jalannya, Hitachi akan mengikuti setiap level perkembangan dan memperkenalkan teknologi buatannya ke pasar untuk setiap level tersebut.

“Hitachi mengikuti langkah-langkah pengembangan yang ditunjukkan pada peta jalannya dengan tujuan membawa teknologi ke pasar untuk setiap fase,” tulis dokumen peta jalan pengembangan mobil otonom Hitachi.

Menurut Statista Mobility Market Outlook, pangsa pasar mobil dengan teknologi bantuan mengemudi atau assisted driving system terus meningkat, sedangkan mobil “biasa” terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020 pangsa mobil “biasa” hanya sebesar 24% dari total mobil baru yang didaftarkan. Padahal pada 2013 pangsanya masih mencapai 65%. Pasar inilah yang ingin diraih Hitachi Astemo.

Perusahaan menargetkan kenaikan penjualan sebesar 30% menjadi ¥ 2 triliun (sekitar Rp 260 triliun) pada 2026 dibandingkan penjualan tahun 2020 dari pertumbuhan pasar untuk mobil listrik dan otonom.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait