Pesawat CN 235-220 Uji Terbang Perdana Bandung-Jakarta Pakai Bioavtur

Ujicoba terbang menggunakan bahan bakar nabati bioavtur 2,4% telah dilaksanakan pada 8-10 September. Pesawat terbang di ketinggian 10.000-16.000 kaki.
Image title
6 Oktober 2021, 11:59
bioavtur, uji coba bahan bakar nabati
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.
Ilustrasi.

Pemerintah berhasil menguji coba bahan terbang perdana pesawat CN 235-220 Flying Test Bed (FTB) dari Bandung ke Jakarta menggunakan bahan bakar nabati bioavtur 2,4% (J2.4). Uji coba ini dalam rangka peningkatan implementasi pengembangan BBN di sektor transportasi udara.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan serangkaian uji coba terbang sebelumnya telah dilaksanakan pada 8-10 September 2021. Pesawat melakukan penerbangan dengan ketinggian 10.000 dan 16.000 kaki.

Hasil pelaksanaan uji terbang menunjukkan bahwa kinerja mesin dan indikator-indikator yang terdapat di kokpit menunjukkan kesamaan antara penggunaan bahan bakar Jet A1 dan J2.4.

"Hari ini kita telah melihat sejarah baru yaitu penerbangan perdana yang gunakan bahan bakar nabati, yang memang kita tunggu selama ini, dan pagi ini dicoba jarak Bandung-Jakarta," kata Arifin dalam acara Seremoni Keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN235-220 FTB dengan Bahan Bakar Bioavtur, Rabu (6/10).

Menurut Arifin berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2015, campuran BBN pada avtur ditargetkan dapat mencapai persentase 3% pada 2020, kemudian ditingkatkan kembali menjadi 5% pada 2025.

Namun implementasi pencampuran bioavtur belum berjalan lancar. Hal ini lantaran terkendala dari ketersediaan bioavtur, proses teknologi dan keekonomoian. Arifin menegaskan keberhasilan uji terbang bioavtur hari ini masih tahap awal. Sehingga ia menekankan agar jangan berpuas diri terhadap keberhasilan tersebut.

"Penelitian dan pengembangan harus dilakukan untuk nantinya dihasilkan J100 dan penggunaan bioavtur untuk seluruh maskapai di Indonesia dan penerbangan mancanegara," katanya.

Untuk diketahui, Pertamina dan ITB melakukan uji coba co-processing kerosene dengan minyak nabati untuk menghasilkan prototipe produk bioavtur. Pengembangannya dilakukan di Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) Refinergy Unit (RU) IV kilang Cilacap.

Tahun lalu tim Pertamina dan ITB berhasil mengembangkan J2.0, kemudian J2.4 pada awal tahun ini. Bahan bakar campuran bioavtur dihasilkan dari bahan baku 2% (J2.0) dan 2,4% (J2.4) refined bleached degummed palm kernel oil (RBDPKO) dengan menggunakan katalis merah putih.

Serangkaian uji karakteristik material bahan bakar telah dilakukan meliputi titik nyala densitas, titik beku, kestabilan termal JFTOT, aromatik, titik kabut, LHV, viskositas dan specific gravity.

Dalam rangka memenuhi kepentingan hukum kelaikan udara, Lemigas menganalisis sifat fisika dan kimia dari J2.0 dan J2.4 maupun Jet A1. Adapun sampel yang dikirimkan ke Lemigas diambil dari tangki di GMF agar lebih mewakili karakteristik bahan bakar.

Proses evaluasi avtur dan bioavtur diperlukan sebelum pelaksanaan pengujian di test cell dimana hasilnya harus memenuhi ASTM D1655 dan SNI sebagai panduan limit sifat fisika jenis avtur dan bioavtur yang boleh diisikan pada tangki pesawat udara untuk digunakan dalam penerbangannya, yaitu terdiri dari titik beku, lower heating value, dan specific gravity.

Hasil uji Lemigas menunjukkan bahwa produk J2.4 dapat memenuhi spesifikasi bahan bakar avtur sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Migas Nomor 35 Tahun 2021, atau dapat dikatakan secara spesifikasi produk J2.4 dapat digunakan sebagai pengganti avtur murni.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait