Terancam Krisis Energi, Amerika Mulai Beralih ke Batu Bara

Sejumlah produsen listrik di Amerika mulai kembali menggunakan batu bara untuk mengantisipasi krisis energi imbas ketatnya pasokan dan mahalnya gas.
Image title
11 Oktober 2021, 17:27
krisis energi, amerika, amerika serikat, batu bara
ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Brenner /WSJ/dj
Krisis energi kini mengancam Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan utilitas yang memproduksi listrik telah beralih ke batu bara seiring ketatnya pasokan gas.

Krisis energi dilaporkan juga tengah mengancam Amerika Serikat (AS). Perusahaan produsen listrik di negara tersebut khawatir persediaan gas yang ada tidak mencukupi untuk menghadapi musim dingin. Sejumlah perusahaan pun mulai beralih ke batu bara untuk menutupi kekurangan gas dan harganya yang mahal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Chief Executive Officer Xcoal Energy & Resources LLC, Ernie Thrasher. “Perusahaan utilitas khawatir mereka tidak bisa mendapatkan bahan bakar yang cukup. Ini bisa memicu pemadaman listrik,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg pada Senin (11/10).

Thrasher menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi global dari pandemi telah mendongkrak permintaan listrik. Hal ini memicu kelangkaan gas dan menyebabkan harganya melonjak, seperti yang terjadi di Asia dan Eropa.

Ini mendorong perusahaan utilitas beralih ke batu bara sebagai sumber energi. Menurut dia, perusahaan utilitas di AS beralih dari gas ke batu bara, dan akan mengkonsumsi komoditas energi itu 23% lebih banyak tahun ini dibandingkan sebelumnya.

Ketatnya pasokan gas yang dibarengi dengan harganya yang melonjak signifikan membuat produsen listrik di Amerika juga menaikkan tarifnya hingga US$ 11 per bulan. Simak databoks berikut:

Co-Chief Investment Officer e360 Power LLC, James Shrewsbury mengatakan bahwa sebenarnya Amerika memiliki pasokan gas yang cukup untuk dapat melewati musim dingin tahun ini secara normal. Namun musim dingin berkepanjangan dapat membuat pasokan gas pada akhirnya tidak mencukupi.

Di sisi lain, peningkatan permintaan batu bara terkendala dengan produksinya yang rendah sebagai bentuk komitmen untuk memerangi perubahan iklim yang membuat produsen enggan meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar fosil, seperti batu bara.

Sekarang, persediaan bahan bakar produsen listrik terus menyusut namun belum dapat dipastikan apakah produsen dapat memenuhi peningkatan permintaan ini. Di sisi lain harga batu bara dunia juga terus melonjak hingga sempat menyentuh US$ 260 per ton, dipicu peningkatan permintaan.

Komisi layanan publik Negara Bagian New York saat ini terus memantau perusahaan utilitas di wilayahnya untuk memastikan mereka memiliki cukup bahan bakar untuk musim dingin. Harapannya, pasokan energi dapat mencukupi naiknya permintaan.

Beralihnya produsen energi di Amerika ke batu bara bertentangan dengan komitmen Pemerintahan Joe Biden untuk mendorong transisi energi dunia dari bahan bakar berjuluk emas hitam tersebut. Bahkan Biden menjanjikan investasi sebesar US$ 2 miliar (lebih Rp 28 triliun) untuk transisi itu.

Investasi tersebut antara lain untuk mengembangkan kendaraan listrik dan baterai penyimpanannya, hidrogen, teknologi penangkapan, penggunaan dan penyimpanan karbon, industri penerbangan dan logistik yang bebas emisi, serta teknologi pembangkit listrik nuklir.

Menurut data Carbon Brief, Amerika merupakan negara pemilik pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bertenaga batu bara terbesar kedua di dunia, dengan kapasitas total 261 gigawatt (GW) berdasarkan data 2018. Cina menempati peringkat pertama dengan kapasitas total 972 GW. Simak databoks berikut:

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait