Presiden Cina Xi Jinping Dikabarkan Absen pada KTT COP26 di Glasgow

Cina merupakan negara penghasil emisi karbon atau gas rumah kaca terbesar di dunia. Kehadirannya pada KTT iklim COP26 sangat penting dalam menentukan arah kebijakan pencegahan perubahan iklim dunia.
Image title
26 Oktober 2021, 13:57
cop26, cina, xi jinping, ktt iklim, perubahan iklim
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/aww/cf
Presiden Cina Xi Jinping dikabarkan bakal absen di KTT Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia.

Presiden Cina Xi Jinping dikabarkan bakal absen pada konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada Minggu (31/10). Padahal, Cina merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia yang memiliki peran besar dalam upaya pencegahan perubahan iklim.

Di sisi lain, para pemimpin negara-negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia akan berkumpul di acara itu untuk membicarakan rencana dan pendanaan untuk lebih mendorong penggunaan energi bersih di dunia.

Pengamat iklim menilai kemungkinan absennya Xi pada COP26 menunjukkan bahwa negara penghasil CO2 terbesar di dunia ini telah memutuskan bahwa mereka tidak memiliki konsesi lagi untuk ditawarkan setelah tiga janji iklim besar yang telah dicetuskan sejak tahun lalu. Salah satunya yaitu mencapai netralitas karbon pada 2060.

Sebaliknya, Cina kemungkinan akan diwakili oleh menteri lingkungan Zhao Yingmin bersama utusan iklimnya Xie Zhenhua. “Satu hal yang jelas, COP26 membutuhkan dukungan tingkat tinggi dari Cina dan penghasil emisi lainnya,” kata penasihat iklim Greenpeace Beijing, Li Shuo, seperti dikutip Reuters, Selasa (26/10).

Sementara pimpinan negara penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga dunia, India, Narendra Modi, berkomitmen untuk hadir di KTT COP26. Seperti para pemimpin lainnya, ia akan mendapat tekanan dari penyelenggara KTT untuk meningkatkan upaya pengurangan emisi yang lebih cepat dan menetapkan tenggat untuk bebas karbon.

Pengamat menilai Cina tidak akan mau ditekan untuk menetapkan target yang lebih ambisius dari yang telah mereka tawarkan, terutama karena Negeri Panda tengah bergulat dengan krisis energi yang melumpuhkan. “(Komitmen) Beijing sudah maksimal,” ujar seorang pengamat lingkungan.

Meski belum ada pengumuman resmi apakah Xi bakal absen atau tidak, analis dan sumber diplomatik mengatakan bahwa hanya sedikit pihak yang berharap dia akan hadir di COP26. Apalagi Xi beberapa kali absen pada KTT serupa sejak pandemi Covid-19 merebak pada akhir 2019, dan hanya hadir secara virtual pada Global Biodiversity Conference di Kunming, Cina, awal Oktober.

Xi diperkirakan hadir secara virtual di COP26. Namun jika itu yang terjadi, kecil kemungkinan kehadirannya itu menghasilkan terobosan yang signifikan, terutama setelah Cina menepis upaya Amerika Serikat (AS) untuk memisahkan masalah iklim dari sengketa diplomatik yang saat ini menjerat keduanya.

Oleh karena itu, analis menilai daripada membuat lebih banyak komitmen iklim, prioritas utama Cina dan India adalah untuk mengamankan kesepakatan pembiayaan yang kuat, yang memungkinkan negara-negara kaya memenuhi komitmen Perjanjian Paris untuk menyediakan US$ 100 miliar per tahun untuk membantu membiayai adaptasi iklim dan mentransfer teknologi bersih ke negara berkembang.

Tiga Komitmen Iklim Besar Cina

Meskipun Xi tidak bepergian ke luar Cina sejak sebelum pandemi, dia telah membuat tiga pengumuman iklim utama di panggung internasional. Dia mengumumkan komitmen nol bersih (net zero emissions) Cina pada pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) pada September 2020.

Pengumuman itu mendorong perusahaan, sektor industri, dan bahkan negara lain untuk mencetuskan rencana aksi dan target net zero emissions mereka sendiri.

Xi juga mengatakan dalam sebuah pesan di KTT Pemimpin yang dipimpin AS tentang Iklim pada bulan April bahwa Ciina akan mulai mengurangi konsumsi batu bara pada tahun 2026. Dan ia juga menggunakan UNGA tahun ini untuk mengumumkan bahwa pembiayaan proyek batu bara luar negeri akan segera diakhiri.

Seperti India, Cina telah berada di bawah tekanan untuk menambahkan lebih banyak komitmen pada nationally determined contributions (NDC) yang diperbarui tentang perubahan iklim, yang akan diumumkan sebelum pembicaraan Glasgow dimulai.

Namun, revisi diharapkan fokus pada implementasi target yang telah diumumkan, daripada membuatnya lebih ambisius. Cina telah berulang kali menekankan bahwa kebijakan iklimnya dirancang untuk melayani prioritas domestiknya sendiri, dan tidak akan dikejar dengan mengorbankan keamanan nasional dan kesejahteraan publik.

Direktur Institute of Public and Environmental Affairs, sebuah kelompok non-pemerintah yang berbasis di Beijing yang memantau polusi perusahaan dan emisi gas rumah kaca, Ma Jun, mengatakan bahwa Cina sudah memiliki cukup banyak tantangan iklim untuk dihadapi dan hanya memiliki sedikit peluang untuk melangkah lebih jauh di Glasgow.

“Dengan semua tantangan dan semua janji yang telah dibuat, tidak cukup berkomitmen di atas kertas, tapi harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang solid,” katanya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait