Nasionalisasi Blok Migas Jadi Penyebab Perusahaan Migas Kakap Kabur

Salah satu isu yang menjadi penyebab kaburnya perusahaan migas dunia dari Indonesia adalah terkait nasionalisasi blok migas yang habis masa kontraknya.
Image title
22 Desember 2021, 15:25
blok migas, perusahaan migas kakap, migas, nasionalisasi
Medco Energi
Ilustrasi

Isu nasionalisasi pada blok migas yang habis kontrak rupanya menjadi salah satu penyebab perusahaan migas kelas kakap memilih pergi dari Indonesia. Terbaru ConocoPhillips sepakat untuk melepas aset migasnya di Indonesia kepada PT Medco Energi Internasional.

Keputusan ConocoPhillips ini memperpanjang daftar perusahaan migas kakap yang keluar dari Indonesia. Setelah Chevron di proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) tahap II dan Shell di Blok Masela.

Praktisi sektor hulu migas Tumbur Parlindungan menyadari beberapa perusahaan migas dunia saat ini memang tengah menggeser portofolio bisnis. Kondisi tersebut tak hanya saja terjadi di Indonesia, yang akhirnya berdampak pada iklim investasi migas.

Menurut dia, hengkangnya perusahaan migas dunia dari Indonesia salah satunya dilatarbelakangi karena semangat nasionalisasi pemerintah. Khususnya terhadap blok blok migas yang habis masa kontraknya diberikan pada Pertamina.

Advertisement

Sementara, ketika diberikan pengelolaanya kepada Pertamina, unrecovered costs KKKS yang sebelumnya akan diberikan, hingga saat ini masih banyak yang belum dibayarkan. "Jadi persepsi nasionalisasi itu yang tumbuh ke investor," ujarnya dalam Energy Corner, Rabu (22/12).

Selain itu, masalah kepastian hukum dan rezim fiskal juga menjadi perhatian para investor dalam menanamkan investasinya di Indonesia. Menurut Tumbur Indonesia masih kalah dari pada negara-negara tetangga.

"Makin banyaknya pemain besar yang keluar dari Indonesia itu membuat tidak menarik juga para pemain lain datang ke di Indonesia. KIta bisa lihat dari berapa kali kita lakukan lelang dan gak ada peminatnya dari pemain besar atau pemain kecil," ujarnya.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan tidak semua pemain besar hulu migas yang ada di Indonesia memilih hengkang. Menurut dia keputusan untuk mengalihkan investasi menjadi hak setiap manajemen perusahaan. Apalagi beberapa pemain migas mempunyai konsentrasi pada portofolio masing-masing.

Namun dia memastikan dari sisi pemerintah berbagai upaya kini terus dilakukan dan ditingkatkan untuk memastikan para pemain migas global yang ada di Indonesia saat ini bisa terus berinvestasi. Simak databoks berikut:

Perusahaan seperti ENI, Mubadala, Petrochina, Petronas, ExxonMobil, Premier Oil dan BP saat ini terus melakukan investasi. "Ini yang perlu disampaikan ke publik juga bahwa cukup besar juga pemain internasional yang masih tetap stay bahkan yang baru masuk juga berkembang," katanya.

Sebelumnya, SKK Migas memastikan transaksi akuisisi aset migas ConocoPhillips oleh PT Medco Energi Internasional tidak akan berpengaruh terhadap kebijakan awal di mana Pertamina akan menjadi operator blok Corridor pada 2026.

Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan Pertamina Hulu Energi (PHE) akan menjadi operator pada tiga tahun pertama setelah kontrak berjalan di Blok Corridor 2023. Hal tersebut mengacu pada Keputusan Menteri ESDM.

"Mengacu pada Kepmen untuk Blok Corridor, setelah 3 tahun perpanjangan, PHE yang akan jadi operator tidak ada yang berubah," ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (17/12).

Meski begitu, Benny belum mengetahui secara pasti mengenai perkembangan rencana akuisisi ConocoPhillips oleh Medco Energi. Yang pasti, siapapun pengelola Blok Corridor selanjutnya SKK Migas akan mendorong untuk melakukan investasi secepat mungkin.

Pasalnya, tujuan diberikannya perpanjangan di Blok Corridor sebagai kepastian untuk segera melakukan investasi. Sehingga tidak mengganggu keberlanjutan produksi. "Agar produksi tidak turun di akhir kontrak, supaya semua potensi dan prospek segera dikembangkan," katanya.

Kementerian ESDM menyatakan pengelolaan Blok Corridor jatuh ke tangan Pertamina pada tiga tahun pertama setelah 2023. Oleh karena itu perusahaan migas pelat merah ini bakal melakukan serangkaian kajian guna mempersiapkan pengelolaan di blok migas tersebut.

Hal ini diputuskan setelah kerja sama pengelolaan Blok Corridor dengan ConocoPhillips (Grissik) Ltd resmi diperpanjang pada 2019 lalu. Kementerian ESDM dan ConocoPhillips telah menandatangani kontrak bagi hasil gross split untuk blok migas di Sumatera Selatan tersebut.

ConocoPhillips telah menjadi operator Blok Corridor sejak 2012, dengan hak partisipasi sebesar 54%. Selebihnya, hak kelola blok ini dipegang oleh PT Pertamina Hulu Energi Corridor dan Talisman (Corridor) Ltd, masing-masing sebesar 10% dan 36%.

Namun pada kontrak baru yang dimulai pada 2023, hak partisipasi ConocoPhillips akan turun menjadi 46%, begitu juga Talisman menjadi 24%. Sedangkan hak partisipasi Pertamina naik menjadi 30%.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait