Persetujuan Rencana Pengembangan EOR Blok Rokan Terganjal Soal Harga

Selain harga, permasalahan supply chemical juga menjadi penghambat persetujuan PoD untuk pengembangan EOR di Lapangan Minas Blok Rokan.
Image title
4 Januari 2022, 19:06
blok rokan, eor, lapangan minas, skk migas
dok. SKK Migas

SKK Migas mengungkapkan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) untuk penerapan enhanced oil recovery (EOR) di Lapangan Minas Blok Rokan hingga kini belum selesai. PoD ini awalnya ditargetkan mendapatkan persetujuan pada Desember 2021.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan hingga kini masih menanti persetujuan PoD untuk penerapan teknologi EOR di Blok Rokan. Dengan begitu, peningkatan produksi minyak melalui mekanisme ini dapat segera dijalankan.

"Permasalahan supply chemical dan harganya ini mungkin perlu dicarikan jalan keluar agar EOR ini dapat di PoD-kan," kata dia di Wilayah Kerja Rokan, Riau Selasa (4/1).

Dwi ingin membuktikan bahwa teknologi peningkatan produksi minyak ini dapat dijalankan di Blok Rokan. Sebab masih banyak pihak yang pesimistis mengenai teknologi ini. "Orang masih pesimis EOR bisa jalan. Kita buktikan itu bisa jadi proses yang dijalankan," katanya.

Advertisement

Sekretaris SKK Migas, Taslim Z. Yunus sebelumnya mengatakan kontribusi Blok Rokan dalam menggenjot target produksi minyak nasional cukup penting. Pasalnya, Pertamina telah memetakan blok tersebut secara keseluruhan sebelum alih kelola dari Chevron Pacific Indonesia (CPI).

"Pada akhir 2030 diharapkan produksi Blok Rokan bisa 400 ribu barel. Berarti 40% dari 1 juta barel," ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap proyek-proyek yang diusulkan Pertamina dalam mengelola Blok Rokan ke depan dapat terlaksana dengan baik tanpa mengalami hambatan. SKK Migas akan terus mengikuti dan memastikan apa yang diprogramkan Pertamina Hulu Rokan sebagai anak usaha Pertamina benar benar terimplementasi.

Pertamina telah menyiapkan strategi dalam pengelolaan Blok Rokan, mulai dari penerapan teknologi pengurasan minyak atau EOR di Lapangan Minas, hingga rencana memonetisasi potensi cadangan di formasi Telisa yang belum dieksplorasi oleh CPI.

Taslim mengatakan monetisasi migas nonkonvensional juga menarik untuk dikembangkan di blok migas terbesar di Indonesia itu.

Pertamina juga memiliki komitmen pasti untuk kegiatan pengeboran sumur eksplorasi di blok itu. Adapun hingga 2025, Pertamina akan mengebor setidaknya 11 sumur eksplorasi. "Kami giring terus agar pengeboran eksplorasi ini bisa dilaksanakan," katanya.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait