Indonesia - Thailand Mulai Produksi Sendiri Obat Covid-19 Molnupiravir

Indonesia maupun Thailand akan mencari mitra untuk memproduksi Molnupiravir.
Image title
15 Januari 2022, 16:42
molnupiravir, obat covid-19, covid-19, virus corona
ANTARA FOTO/Adwit B Pramono
Ilustrasi obat Covid-19.

Dua negara ASEAN, Indonesia dan Thailand, mulai bergerak memproduksi sendiri obat antivirus Covid-19 molnupiravir. Obat ini akan digunakan untuk memerangi kasus Covid-19 yang terus meningkat yang dipicu oleh varian Omicron.

Menteri Kesehatan Thailand mengatakan mereka akan mengikuti langkah negara-negara lain di kawasan ASEAN yang juga berencana memproduksi sendiri obat tersebut, termasuk negara tetangga di Asia Selatab, Bangladesh dan India.

“Untuk molnupiravir, Government Pharmaceutical Organisation memiliki rencana untuk mengembangkan bersama obat ini dengan Chulaborn Research Institute,” kata Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul, seperti dikutip Straitstimes, Sabtu (15/1).

Ia menambahkan sebuah komite akan dibentuk untuk meneliti dan memproduksi obat tersebut yang akan membantu pemerintah dalam menghadapi gelombang pandemi berikutnya.

Advertisement

Secara terpisah, Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin pada Jumat (14/1) mengatakan pemerintah juga berencana mengembangkan molnupiravir, bekerja sama dengan perusahaan farmasi PT. Amarox Pharma Global, mulai bulan April atau Mei.

Menkes juga meminta perusahaan tersebut mampu membuat Paxlovid untuk pasokan obat Covid-19. Indonesia telah menyetujui penggunaan darurat molnupiravir dan 400.000 pil telah tiba melalui PT. Amarox.

“Kalau bisa segera mendapatkan akses ke obat tersebut akan sangat membantu penanganan Covid-19,” kata Budi dalam keterangan tertulis usai meresmikan PT Amarox Pharma Global di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (14/1).

Produksi dalam negeri sangat penting lantaran dari pengalaman lonjakan Covid-19 sebelumnya, Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan pasokan obat.

Dalam jangka pendek PT Amarox diharapkan bisa membantu penanganan pandemi dan dalam jangka panjang mampu mendukung kemandirian obat dalam negeri. “Sehingga kalau ada pandemi selanjutnya, kita tidak bergantung kepada negara lain,” kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Dia menambahkan, obat ini akan diberikan untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan, dengan saturasi oksigen darah di atas 95%. Hal ini ditujukan untuk mencegah pasien dirawat di rumah sakit. "Diberikan untuk orang dengan gejala yang ringan, bukan orang sudah masuk rumah sakit," kata Budi.

Adapun obat ini awalnya dikembangkan oleh Merck & Co., Inc. Berdasarkan hasil penelitian, obat ini diyakini efektif melawan berbagai varian virus corona, dan waktu yang paling ampuh untuk memberikan obat ini adalah pada tahap awal infeksi.

Merck (MSD) menyebutkan bahwa molnupiravir tidak menargetkan duri dari protein virus namun viral polimerase atau enzim yang dibutuhkan virus untuk membuat salinan dirinya sendiri.

Merck sebelumnya mengambil sampel usap (swab) laboratorium peserta dalam uji coba awal saat terjadi lonjakan rawat inap dan kematian Covid-19. Hasilnya, Delta tidak beredar luas pada saat pengujian Molnupiravir.

Pada awal tahun ini, perusahaan tersebut menyatakan hasil uji coba kecil tahap menengah menunjukkan tidak ada pasien yang positif tertular virus setelah lima hari pengobatan Molnupiravir.

Mereka saat ini melakukan dua uji coba Fase III dari antivirus yang dikembangkan bersama Ridgeback Biotherapeutics untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan Covid-19. Uji coba melibatkan pasien yang tidak dirawat di rumah sakit, memiliki gejala tidak lebih dari lima hari, dan berisiko terkena penyakit parah.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait