ESDM Temukan Mineral Lain di Lumpur Lapindo Selain Logam Tanah Jarang

Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan bahwa di lokasi lumpur Lapindo, Sidoarjo, selain logam tanah jarang juga mengandung logam critical raw material.
Image title
21 Januari 2022, 16:37
lumpur lapindo, logam tanah jarang, badan geologi, kementerian esdm
ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.
Endapan lumpur Lapindo mengering di kolam penampungan di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/5/2021).

Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur tidak hanya mengandung potensi logam tanah jarang, tetapi juga mineral logam lainnya yang disebut critical raw material.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono telah meneliti potensi logam tanah jarang di Lumpur Lapindo sejak 2020. Namun berdasarkan kajian tersebut juga ditemukan potensi critical raw material yang lebih besar dibandingkan potensi logam tanah jarang.

"Ada indikasi keberadaan dari logam tanah jarang ini, selain itu ada logam lainnya termasuk logam critical raw material ini yang jumlahnya lebih besar," kata dia dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (21/1).

Adapun saat ini Badan Geologi bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA) terus melakukan kajian di wilayah tersebut. Sehingga kajian mengenai kandungan logam di lumpur Lapindo masih terus berlangsung.

Advertisement

"Ini adalah kerja sama dengan dua institusi, sehingga perlu koordinasi. Hasilnya perlu diintegrasikan baru selesai akhir tahun kemarin Desember, saat ini sedang diintegrasikan mudah-mudahan bisa tahu seberapa besar potensi logam tanah jarang di Sidoarjo," katanya.

Seperti diketahui, pemanfaatan logam tanah jarang mulai santer terdengar ketika Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melakukan pertemuan beberapa waktu lalu. Keduanya membicarakan mengenai potensi mineral itu.

Kondisi geografis Indonesia yang terletak di jalur cincin api membuat potensi keberadaan mineral itu sangat besar. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan PT Timah Tbk juga sedang memulai pengembangannya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan langkah-langkah yang bisa dilakukan pemerintah jika ingin serius mengembangkan industri logam tanah jarang di Indonesia. Simak databoks berikut:

Langkah pertama adalah menyiapkan regulasi dalam bentuk peraturan Presiden. Peraturan Presiden ini termasuk untuk mengatur pengumpulan seluruh monasit di Indonesia. Monasit merupakan sisa hasil pengolahan mineral timah yang nantinya dapat diekstraksi menjadi logam tanah jarang.

Langkah berikutnya, pemerintah dapat memberikan insentif untuk perusahaan start up yang ingin terlibat dalam pemanfaatan mineral langka ini. Kemudian, melakukan perhitungan secara detail cadangan logam tanah jarang pada Izin Usaha Pertambangan (IUP) Timah dan tambang rakyat.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Riset dan Teknologi Bahan Galian Nuklir (PRTBGN) BRIN Yarianto Sugeng Budi Susilo menilai percepatan ekstraksi monasit menjadi logam tanah jarang sangat tergantung dari kesediaan pemerintah, terutama dalam menugaskan BUMN untuk membangun industri ini.

"PR jangka pendek. Buat Perpres Industri logam tanah jarang, termasuk pengaturan untuk pengumpulan seluruh monasit," ujar Yarianto kepada Katadata.co.id beberapa waktu lalu, Kamis (16/12).

Sementara itu target jangka panjang adalah eksplorasi dan riset ekstraksi logam tanah jarang pada mineral yang berbeda, sebagai jaminan ketersediaan sumber daya dan keberlanjutan industri ini.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait