SKK Migas Prediksi Produksi Minyak Tahun Ini Capai Titik Terendah

Target produksi minyak tahun ini diprediksi sulit tercapai karena sektor migas baru mulai pulih dari pandemi Covid-19.
Image title
28 Maret 2022, 11:55
produksi minyak, skk migas
Arief Kamaludin|KATADATA

Produksi minyak mentah Indonesia tahun ini diperkirakan tidak mencapai target 703.000 barel per hari (bph). Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abudurrahman bahkan mengatakan bahwa tahun ini akan menjadi titik tertendah dalam produksi minyak nasional.

"Target produksi 703.000 bph akan sulit dilakukan karena capaian produksi di awal tahun yang jauh dari target produksi yang ditetapkan, hampir 40.000 bph di bawah target," ujarnya dalam Energy Corner, Senin (28/3).

Menurutnya, tahun ini merupakan upaya kembali menggenjot produksi pasca-pandemi Covid-19. Ia berharap, walau sulit memenuhi target, SKK Migas akan terus berupaya mengejar target produksi 703.000 bph.

“Kalau ditanya seberapa optimis? Mungkin tidak akan 100% mencapai target, tapi kami akan terus mengejar target itu,” sambungnya.

Advertisement

Hal yang berbeda terjadi pada produksi gas. Menurut fatar, realisasi produksi tak berbeda jauh dengan target. Pada tahun ini, tren lifting gas bumi mencapai 1.036 MBOEPD. Jumlah ini lebih tinggi dari 2021 di angka 982 MBOEPD. Simak databoks berikut:

Dari jumlah tersebut, diperkirakan 40% gas alam cair (LNG) di ekspor ke sejumlah negeri seperti Korea, Jepang, Cina, dan Taiwan. “Ekspor LNG pasti menguntungkan karena harganya linked (berkaitan) dengan ICP. Kalau ICP naik, LNG akan naik,” ujar Fatar.

Tren investasi di sektor hulu migas pun meningkat tiap tahunnya. Nilai investasi pada tahun 2020 senilai US$ 10,5 miliar. Angka ini naik menjadi US$ 10,7 miliar pada 2021 dan diperkirakan melonjak menjadi US$ 13,2 miliar tahun ini.

Dengan nilai investasi yang terus miningkat, Fatar mengatakan SKK Migas akan memasifkan kegiatan komersialisasi, eksploitasi dan ekspolarasi lapangan-lapangan baru. Singkatnya, sumur-sumur pengembangan harus terus produksi dan eksplorasi harus harus terus dilakukan.

Adapun tantangan yang ditemui yakni adanya potensi penuruanan harga yang ditimbulkan oleh proyek transisi energi. Hal ini menyebabkan harga menjadi semakin kompetitif jika produksi yang dilakukan tidak ramah lingkungan.

“Artinya ketika ada temuan-temuan baru untuk produksi gas, kita akan menghasilkan CO2. Ini harus dikurangi dengan carbon capture. Biaya menjadi tinggi dan harga gas menjadi tinggi. Lapangan-lapangan kita banyak yang marjinal dan harus melakukan ini (carbon capture), sehingga harga produksi lebih mahal,” paparnya.

Namun di sisi lain, Fatar melihat hal tersebut menjadi sebuah tantangan karena sebagian besar investor migas besar seperti BP, Shell, Exxon Mobil telah mengubah kebijakannya untuk mengurangi investasi kepada energi fosil. “Mereka mengubah portofolionya yang mengarah kepada energi terbarukan. Investasi fosil dikurangi,” sebutnya.

Pada kesempatan tersebut, Fatar menjelaskan realisasi pasokan LPG di Indonesia mengalami penurunan karena kandungan gas di sejumlah lapangan kian menipis, utamanya bahan kandungan Propane (c3) dan Butane (c4). “Sehingga produksi kita tak mampu menutup kebutuhan di dalam negeri dan pemerintah terpaksa impor,” ujarnya.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait