Harga Batu Bara Tembus US$ 400, Bagaimana Peluang RI Kerek Ekspor?

Bisakah Indonesia meraup keuntungan dari melonjaknya harga batu bara dunia yang kini menembus US$ 400 per ton? Untuk mengerek ekspor batu bara, produksi harus lebih dulu ditingkatkan.
Image title
17 Mei 2022, 19:21
harga batu bara, ekspor batu bara, batu bara, produksi batu bara
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta, Rabu (12/1/2022).

Harga batu bara dunia menembus US$ 400 per ton seiring lonjakan permintaan dari India akibat krisis energi yang disebabkan gelombang panas yang membuat konsumsi listrik melonjak untuk pendingin ruangan.

Mengutip barchart.com, harga batu bara kontrak pembelian Mei 2022 kini mencapai US$ 402.5 per ton. Lalu bagaimana peluang Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia untuk mendulang keuntungan dari momentum tingginya harga mineral hitam ini?

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, mengatakan lonjakan harga batu bara tersebut bersifat sementara dan hanya berlaku pada pasar spot untuk batu bara kualitas tinggi atau high rank coal dengan spesifikasi batu bara di atas 6.000 kilo kalori (kcal) per kilo gram (kg).

“Sedangkan untuk batu bara medium rank coal yang di Indonesia dipakai untuk PLTU itu tidak terlalu mengikuti kenaikan harga,” kata Rizal dalam Mining Zone pada Selasa (17/5).

Advertisement

Menurut Rizal, sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan jumlah produksi nasional di tengah tingginya harga batu bara global. Simak perkembangan produksi batu bara Indonesia delapan tahun terakhir pada databoks berikut:

Tahun ini pemerintah menargetkan produksi batu bara sebanyak 675 juta ton. Menurut Rizal, kesulitan penambahan produksi disebabkan oleh beberapa faktor seperti minimnya ketersediaan alat berat yang merupakan faktor pendukung utama dalam proses produksi batu bara.

“Penyediaan dan pengadaan alat produksi itu tidak mudah, butuh waktu yang lama sekira tiga bulan, enam bulan bahkan sampai satu tahun tahun sehingga ini menyulitkan terjadinya lonjakan produksi yang drastis,” ujarnya.

Selanjutnya, faktor administrasi seperti sulitnya pengesahan dan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) pada pertengahan tahun juga dirasa menjadi faktor akan sulitnya meningkatkan jumlah produksi nasional.

“Ini akan sulit meningkatkan produksi batu bara secara drastis. Ini juga akan menyulitkan Indonesia untuk dapat memanfaatkan momen tersebut. Tetapi bagi sejumlah perusahaan, ini menguntungkan. Tergantung pada kesiapan masing-masing produsennya,” jelas Rizal.

Rizal melanjutkan, tingginya harga batu bara juga disebabkan oleh krisis energi masih akibat dampak pemulihan ekonomi pasca menurunnya penyebaran pandemi Covid-19. Pemulihan ekonomi memancing peningkatan produksi. Simak perkembangan harga batu bara dunia pada databoks berikut:

Selain itu, belum meredanya konflik Rusia-Ukraina juga menimbulkan kelangkaan suplai gas dan batu bara di Eropa. Oleh karena itu, sejumlah negara di Eropa harus mencari sumber alternatif batu bara dari Afrika Selatan, Kolombia, Australia, dan Indonesia. “Tapi Indonesia ekspornya lebih fokus ke Asean dan India,” ucap Rizal.

Harga batu bara dunia diperkirakan akan turun ketika produksi batu bara India meningkat yang akan menurunkan impor.

Penurunan harga juga bisa didorong oleh produksi batu bara harian di Cina. Produksi batu bara Cina sejak Januari hingga April 2022 tercatat 1,45 miliar ton. Adapun produksi pada bulan April naik 11% dari bulan sebelumnya.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait