Disparitas Harga Tinggi, Penyelundupan Batu Bara Berpotensi Melonjak

Harga batu bara dunia kini menyentuh US$ 402 per ton jauh di atas harga untuk kebutuhan dalam negeri atau DMO yang hanya US$ 70 per ton.
Image title
17 Mei 2022, 19:50
harga batu bara, ekspor batu bara, batu bara
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Foto udara aktivitas bongkar muat batu bara di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Kamis (9/12/2021).

Disparitas harga batu bara yang cukup tinggi antara penjualan di dalam negeri melalui kebijakan domestic market obligation (DMO) dan ekspor berpotensi menimbulkan penyelundupan.

Saat ini harga batu bara dunia telah menembus US$ 400 per ton, tepatnya US$ 402,5, jauh di atas harga DMO yang hanya US$ 70 dan harga batu bara acuan (HBA) Indonesia Mei 2022 US$ 275,64.

“Bisa terjadi penyelundupan ke luar negeri sehingga PLN dan industri lainnya akan sedkiti mengalami kesulitan karena pengusaha akan lebih mengutamakan ekspor karena harganya tinggi,” kata Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, Selasa (17/5).

Lebih lanjut, tingginya harga batu bara saat ini akan berdampak pada inflasi di dalam negeri. Rizal menjelaskan, peningkatan harga produk yang dihasilkan di dalam negeri maupun yang diimpor dari luar negeri, semua tergantung pada harga energi yang digunakan dalam produksinya. “Semen mungkin bisa naik harga jualnya,” ujarnya.

Advertisement

Pada kesempatan tersebut, Rizal menyebutkan sejumlah para pelaku usaha batu bara akan mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) pada pertengahan tahun ini. Simak databoks berikut:

Revisi ini merupakan salah satu langkah dalam menyikapi adanya kenaikan harga, keinginan untuk meningkatkan produksi, maupun menurunkan tingkat produksi batu bara. Biasanya, tiap tahun ada 10% sampai 15% perusahaan batu bara yang mengajukan revisi RKAB

“Perkiraan saya 10% sampai 15% perusahan dari total jumlah perusahaan itu selalu mengajukan perubahan RKAB di pertengahan tahun, bulan Juni atau Juli. Revisi RKAB dilakukan semua tergantung pada kesiapan perusahaannya,” ujarnya.

Rizal melanjutkan, tingginya harga batu bara juga disebabkan oleh krisis energi yang masih akan terus terjadi akibat dampak pemulihan ekonomi pasca menurunnya kasus Covid-19. Pemulihan ekonomi memancing peningkatan produksi global.

Selain itu, belum meredanya konflik Rusia-Ukraina juga menimbulkan kelangkaan suplai gas dan batu bara di Eropa. Oleh karena itu, sejumlah negara di Eropa harus mencari sumber alternatif batu bara dari Afrika Selatan, Kolombia, Australia, dan Indonesia. “Tapi Indonesia ini penjualan ekspornya lebih fokus ke Asean dan India,” tukas Rizal.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait