Riset: Pensiun Dini PLTU Cegah 14,5 Juta Kematian Akibat Polusi Udara

Penghentian operasi PLTU eksisting dan penghentian pembangunan PLTU batu bara baru dapat mencegah 14,5 juta kematian dini akibat polusi udara di seluruh dunia.
Image title
25 Mei 2022, 15:24
pensiun dini pltu, polusi udara, kematian dini, batu bara
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Foto udara cerobong di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin di Desa Sijantang, Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (17/10/2019).

Analisis terbaru yang diterbitkan oleh lembaga think tank New Climate Institute yang berbasis di Jerman menyebutkan 14,5 juta kematian dini akibat polusi udara dapat dihindari jika dunia setop mengoperasikan dan tak membangun PLTU batu bara hingga 2050.

Upaya tersebut juga akan memberikan manfaat ekonomi sebesar US$ 16,3 triliun. Nilai itu setara dengan menyelamatkan sekitar 425 juta tahun kehidupan, atau memperoleh tambahan 20 hari untuk setiap 7,9 miliar populasi global saat ini.

Para peneliti menunjukkan bahwa pembangkit batu bara yang ada di seluruh dunia berkontribusi terhadap lebih dari 900 ribu kematian dini per tahun. Sedangkan untuk Indonesia, pensiun dini dan penghentian pembangunan PLTU batu bara baru dapat mencegah 110 ribu kematian dini.

Harry Fearnehough, salah seorang penulis studi ini, menekankan pentingnya sinergi antara mengambil tindakan untuk memerangi perubahan iklim dan mendorong perbaikan besar dalam kesehatan di seluruh dunia.

Advertisement

“Kita semua sadar betapa merusaknya pembangkit listrik batu bara bagi iklim dan bahwa sebagai komunitas global, kita perlu segera melepaskan ketergantungan pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/5).

Dia menambahkan bahwa hasil riset ini memberikan gambaran global tentang manfaat kesehatan yang dapat diwujudkan dengan mendorong agenda transisi energi yang mendesak, serta menampilkan data dampak dari tingkat nasional hingga ke detail unit PLTU batu bara.

Hasil riset ini diluncurkan mealui sebuah web interaktif, AIRPOLIM webtool, yang mengacu dari basis data PLTU batu bara yang beroperasi di 24 negara sekitar, yang mencakup lebih dari 90% dari total pembangkit di seluruh dunia, atau sekitar 2.000 gigawatt dan masuh talam tahap perencanaan/konstruksi sekitar 400 GW.

AIRPOLIM webtool, yang dapat diakses melalui https://ambitiontoaction.net/airpolim/, juga menunjukkan analisis dampak kesehatan global yang merugikan dari PLTU batu bara didominasi oleh Cina.

Negeri panda menyumbang lebih dari setengah kapasitas PLTU batu bara global saat ini. Pengoperasian PLTU di Cina saja menyebabkan lebih dari 720 ribu kematian dini per tahun. Para peneliti memperkirakan bahwa pengoperasian PLTU yang ada dan yang direncanakan di Cina dapat menyebabkan 21 juta kematian dini selama tiga dekade ke depan.

India, pengguna PLTU terbesar lainnya di Asia, juga akan bertanggung jawab atas kematian dini yang signifikan jika mereka terus membangun dan mengoperasikan PLTU selama beberapa dekade ke depan.

Negara berpenduduk sekitar 1,4 miliar jiwa ini merupakan pemilik armada batu bara terbesar kedua di dunia. Kepadatan penduduk yang tinggi berarti poplasi yang lebih besar terpapar polusi udara lokal dari PLTU.

Meski demikian, penulis lain dari studi ini, Reena Skribbe, mencatat bahwa tak hanya India dan Cina yang perlu mengambil tindakan untuk mengurangi pembangkitan batu bara mereka.

“Cina dan India jelas merupakan pemain terbesar, penelitian kami menunjukkan bahwa masih ada potensi signifikan untuk mencegah kematian dini di 24 negara yang telah kami analisis dan tampilkan di AIRPOLIM webtool,” ujarnya.

Sebagai titik awal, lanjut Skribbe, sekitar 3,2 juta kematian dini dapat dihindari di semua negara yang diliput melalui webtool tersebut, hanya dengan berhenti membangun PLTU batu bara hari ini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait