Harga Minyak Masih Bergolak Imbas Sentimen Resesi dan Ketatnya Pasokan

Harga minyak bergerak liar dalam sepekan terakhir yang dipicu oleh kekhawatiran resesi global dan pasokan yang ketat karena OPEC+ gagal mencapai target peningkatan produksi.
Happy Fajrian
4 Juli 2022, 14:55
harga minyak, resesi
Zukiman Mohamad/Pexels
Rig pengeboran minyak lepas pantai.

Harga minyak dunia masih bergolak seiring kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global yang masih membebani pelaku pasar. Pasalnya resesi akan memukul permintaan energi. Di sisi lain, pasokan minyak mentah masih ketat karena ketidakmampuan OPEC+ mencapai target produksi.

Harga minyak berjangka Brent hari ini, Senin (4/7) bergerak di level US$ 112,35 per barel. Sepanjang pekan lalu harga brent berfluktuasi tajam dengan harga terendah US$ 108,25 pada perdagangan intraday Jumat (1/7), dan harga tertinggi US$ 120,06 pada Rabu (29/6).

Sama halnya dengan minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), yang bergerak liar di kisaran US$ 104-113 per barel sepanjang pekan lalu. Sementara hari ini WTI diperdagangkan di harga US$ 108,51.

“Kekhawatiran resesi adalah faktor bearish utama yang membatasi lonjakan harga minyak. Kenaikan suku bunga dan penurunan kepercayaan konsumen telah merusak prospek permintaan bahan bakar,” kata analis CMC Markets Tina Teng, seperti dikutip Reuters, Senin (4/7).

Advertisement

Sementara itu, lanjut Teng, data menunjukkan bahwa kapasitas kilang minyak AS telah meningkat, serta nilai tukar dolar yang kuat turut melemahkan pasar komoditas secara luas, termasuk harga minyak mentah.

Sentimen konsumen AS turun ke rekor terendah pada bulan Juni meskipun ada sedikit perbaikan dalam prospek inflasi, karena Federal Reserve mengatakan komitmennya untuk mengendalikan inflasi “tanpa syarat” dan meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga.

Kekhawatiran pasokan minyak masih tetap ada, mencegah penurunan harga yang lebih curam. “Pasar energi tetap sarat dengan risiko pasokan spesifik yang membuat short menjadi pengalaman yang menegangkan,” kata analis komoditas Commonwealth Bank Tobin Gorey.

Produksi minyak dari 10 anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Juni turun 100.000 barel per hari (bph) menjadi 28,52 juta bph, dari peningkatan yang dijanjikan sekitar 275.000 bph.

Penurunan produksi juga terjadi di Nigeria dan Libya yang mengimbangi peningkatan oleh Arab Saudi dan produsen besar lainnya.

“Libya menghadapi gangguan pasokan lebih lanjut karena meningkatnya kerusuhan politik, membuat kemungkinan OPEC memenuhi kuota produksi yang baru meningkat bahkan lebih tidak mungkin,” kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

Menurut perusahaan minyak milik negara Libya National Oil Corp, ekspor minyak mentah Libya telah turun menjadi antara 365.000 bph dan 409.000 bph, turun sekitar 865.000 bph dibandingkan dengan tingkat normal.

Dalam pukulan lebih lanjut untuk pasokan, pemogokan yang direncanakan oleh pekerja minyak dan gas Norwegia minggu ini dapat memangkas produksi minyak dan kondensat negara itu sebesar 130.000 bph.

Pedagang akan mengawasi harga resmi untuk Agustus dari eksportir minyak utama Arab Saudi untuk tanda-tanda seberapa ketat pasar, dengan penyuling bersiap untuk kenaikan tajam lainnya mendekati rekor yang ditetapkan pada Mei.

Sembilan sumber penyulingan yang disurvei oleh Reuters memperkirakan harga jual resmi minyak mentah Arab Light andalan Saudi bisa naik sekitar US$ 2,40 per barel dari bulan sebelumnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait